Covid, Cavod, Cadosh, Cross

“Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan”Yesaya 29:13
Sudah hampir setahun kita “bergaul” dengan pandemi COVID, pertanyaannya, apa pengaruh Pandemi COVID ini bagi kita? Apakah memang diperlukan sebuah bencana untuk menyadarkan perlunya pembaharuan spiritual, seolah kita dibangunkan dari tidur panjang “ketidak-sadaran“?
Manusia adalah mahluk rohani yang bertubuh jasmani, namun tidak semua manusia menyadari betul jati diri hidupnya sebagai “spiritual being”. Sering kali kita terlupa (tertidur) sehingga cenderung mengumbar hawa nafsu atau perbuatan yang hanya mementingkan diri sendiri.
Kalau kita melihat sejarah dunia, secara ilmu pengetahuan manusia telah dapat menjawab hampir semua kebutuhan. Namun tidak demikian dengan spiritualitas (kerohanian) manusia. Baik secara individu maupun Corporate, umat manusia telah mengalami kemerosotan spiritualitas. Hal ini ditandai terjadi perang dagang antar negara adi kuasa. Terjadi penindasan bernuansa SARA di berbagai negara termasuk Amerika. Demokrasi yang dibanggakan pun telah bercampur kekerasan. Humanisme dan HAM juga kebablasan. Exploitasi sumber daya alam yang serakah sehingga merusak ekosistem. Sedang Agama kehilangan arti karena berorentasi kemakmuran jasmani yaitu mensejajarkan spiritualis dengan kekayaan.
Itu sebabnya jika kita melihat dari sisi rohani, pandemi COVID bukan kutukan, bukan bencana, pandemi COVID adalah “blessing in disguise”, berkat terselubung yang seharusnya menyadarkan betapa umat manusia telah salah jalan. Pandemi COVID, bisa menyadarkan kedangkalan spiritualitas kita, pandemi COVID adalah sebuah cara Tuhan untuk menarik perhatian kita yang telah kehilangan “kerinduan mengenal Dia“. Untuk menyadarkan kembali bahwa manusia sebenarnya adalah manusia rohani (spiritual being) yang seharusnya dapat merasakan kehadiran Allah yang adalah Roh.
Ada tiga hal, mengapa kesadaran manusia rohani mati sehingga tidak mengenal-Nya. Yaitu, pertama kita kehilangan kepekaan bahwa hadirat (existensi) Allah itu nyata (CAVOD), kedua hati manusia yang tak lagi murni atau kudus (CADOSH) di mana motivasi hati manusia hanya mengejar keuntungan materi. Ketiga, orang Kristen memang diselamatkan oleh anugerah yaitu karya Kristus di Kayu Salib, bukan karena perbuatan baik.
Namun praktek setiap orang yang diselamatkan seharusnya adalah kehidupan meneladani perbuatan Kristus, yaitu mengasihi dan berkorban bagi orang lain. Yang terjadi saat ini justru sebaliknya orang Kristen suka hasil instant tanpa berkorban. Tanpa Salib (CROSS), tapi ingin mahkota.
Ini yang belakangkan terlupakan, mereka di “Nina bobokan” oleh pengajaran yang cenderung mengarah kepada hidup mulia tanpa berkorban, “Crown without Cross”. Semoga COVID membangunkan tidur panjang spiritualitas orang Kristen. [DD]
Selengkapnya kunjungi AquilaCenter
Questions:
1. Benarkah Covid-19 sebuah bencana ? Atau berkat terselubung untuk pembaharuan kesadaran spiritual manusia?
2. Kesadaran spiritual seperti apa yang sedang Tuhan ingatkan kepada Anda ?
Values:
Warga Kerajaan seharusnya lebih menyukai pengenalan akan Tuhan dari pada berkat Tuhan.
*Tuhan memang tak pernah tertidur, yang tertidur adalah kesadaran kita menyadari kehadiran-Nya.*
See also  Zona Hitam

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*