Dikenal dari Buahnya

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?”_ Matius 7:16
Setiap hari kita disuguhi perdebatan baik antar Agama, maupun inter Agama (perdebatan doktrin di dalam agama yang sama). Perdebatannya adalah ajaran mana yang lebih benar, doktrin mana yang lebih benar. Ada yang berdebat tentang ajaran dari sumber bacaannya (kitabnya), lalu bila ajarannya berbeda berarti ada kitabnya yang palsu atau teksnya sudah tidak asli lagi. Ada yang kitabnya sama tapi yang diperdebatkan adalah tafsirannya.
Tentu saja dalam perdebatan setiap pihak mengklaim paling benar. Persis seperti iklan kecap jaman dulu, kecap saya nomor satu. Akhirnya dapat kita lihat walaupun perdebatan ini tentang “kebenaran” tetapi tak jarang cara berdebat menjadi sengit dan berbuntut anarkis. Bahkan menurut pengamatan saya perdebatan sengit antar dan inter agama justru memicu banyak orang jadi antipati terhadap ajaran agama. Orang yang kecewa terhadap agama ini, menjadi orang percaya Tuhan tetapi tidak percaya kepada Agama. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Menurut saya kita harus sadar bahwa setiap perbuatan dan perkataan kita kelak akan dihakimi/diadili, pengertian ini secara universal dipahami oleh semua agama.
Menurut saya kita tidak dihakimi berdasar doktrin yang kita mengerti di otak kita, tetapi menurut apa yang kita hidupi, apa yang kita perbuat. “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu”(Wahyu 20:12).
Jadi jika demikian fokusnya bukanlah ajaran dan doktrin yang benar, tetapi bagaimana perbuatan kita. Tentu saja pernyataan ini tetap dapat dipertanyakan, bukankah standar perbuatan balk kita berbeda bila doktrin atau tafsiran berbeda? Ada yang menafsirkan membunuh bisa dibenarkan jika orang yang dibunuh itu kafir/tidak sepaham. Ada yang menafsirkan kita tidak perlu merasa bersalah walau kita masih berbuat dosa.
Sebenarnya secara universal kita bisa belajar kepada alam, kepada tumbuhan, secara universal kita tahu bahwa ada buah yang manis, masam atau pahit dan penilaian rasa buah sangat jarang diperdebatkan kita semua pasti lebih menyukai buah yang manis bukan yang masam apalagi yang pahit. Perbuatan kita ibarat buah, kebenaran kita juga terefleksi dari buah perbuatan baik kita yang bisa dinikmati oleh orang lain. Anda setuju? [DD]
Question:
1. Menurut Anda mana yang lebih penting, mengerti doktrin Yang baik, atau berbuat baik yang bisa dirasakan orang lain?
2. Adakah dalam pengalaman Anda pernah bertemu orang yang sangat religius (hafal,doktrin agama) tetapi perbuatannya jahat?
Values:
Percaya bahwa hidupnya dikasihi oleh Tuhan tetapi praktek hidupnya banyak membenci orang lain, bukanlah warga Kerajaan sejati.
Kingdom Quote:
Hati-hati doktrin agama seringkali seperti candu, memabukkan dan hanya memberi kenikmatan palsu.
See also  Pahlawan itu Bernama Kasih

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*