Bidat Namun Cerdas Rohani

“Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” Lukas 10:31-33
Beberapa waktu lalu kita mendengar polemik tentang Salib, ada pandangan dari seorang pemuka agama lain saat ditanya oleh penanya yang merasa takut saat berhadapan dengan Salib, ia langsung memberikan jawaban bahwa di dalam salib ada “jin kafir.” Jadi ia menyarankan jangan pernah dekat-dekat Salib, seperti ambulance dan rumah sakit yang ada tanda salibnya. Artinya dalam pandangannya seseorang bisa menjadi Kristen karena ada jin kafir yang bisa menyihirnya atau merasukinya.
Sepertinya Ini pandangan yang absurd, namun sebenarnya sudah lumrah dan biasa. Seseorang yang menganggap kelompok sendiri mulia dan “men-Dajjal-kan“ kelompok yang lain.
Perspektif atau prasangka yang serupa bisa terjadi juga di sebagian orang Kristen. Saya pernah tamasya ke Thailand bersama rombongan yang di dalamnya ada sekelompok pendeta Kristen. Ketika kami mengunjungi istana dan kuil di Thailand ada pendeta Kristen tidak mau turun dari bus dan hanya melihat istana itu dari kejauhan. Mengapa? Karena di istana itu banyak simbol agama Budha. Asumsi saya pendeta Kristen ini takut karena melihat simbol/patung agama Budha yang dianggap berhala.
Tidak hanya di situ. Kalau Anda perhatikan dengan seksama, sesama Kristen yang berbeda “denominasi” juga bisa saling “men-Dajjal-kan“. Menarik sekali kalau kita pelajari sejarah Kristen bahwa kekristenan pun awalnya dianggap sebagai aliran sesat (bidat) oleh penganut Yudaisme. Tidak heran pengikut Kristus mula- mula saat itu
di kejar-kejar seperti anjing yang layak dibunuh. Lalu bagaimana dengan pandangan Anda saat ini?
Saya percaya bahwa siapapun Anda bisa terjerumus menjadi “bodoh secara rohani“ atau “dangkal secara rohani.“
Anda memandang orang lain sesat karena ritualnya berbeda dengan Anda.
Kedewasaan rohani seharusnya ditandai dengan Anda mati bagi diri sendiri, bukannya “membinasakan” yang lain. “Menyesat-nyesatkan” yang berbeda dengan Anda membuat orang mempunyai legitimasi untuk memusnahkan yang berbeda, tetapi mengasihi sesama manusia (bahkan yang berbeda keyakinan) seperti diri sendiri itu membuktikannbahwa Anda dewasa secara rohani.
Seorang Samaria yang ritualnya dianggap bidat dan sesat, yang tidak bergaul dengan orang Yahudi, di mata Yesus lebih dewasa rohani daripada seorang imam dan seorang Lewi. Orang Samaria yang baik hati ini, menolong seorang Yahudi yang secara agama tidak sama bahkan memusuhinya.
Mungkin Anda menganggap diri Anda paling murni dan mulia, ukuran Anda secara rohani adalah orang Lewi ataupun Imam, tetapi bisa jadi Anda tidak dewasa secara rohani. Jangan-jangan seorang
Samaria yang bidat bisa lebih dewasa secara rohani dibanding Anda. Janganlah menjadi bodoh rohani! [DD]
Questions:
1. Benarkah seorang yang taat menjalan ibadah dan ritual agama adalah seorang yang ‘cerdas’ rohani?
2. Apakah ukuran cerdas rohani menurut Anda ?
Values:
Status sebagai anak Allah atau
pengikut Kristus tidak selalu
membuktikan seseorang cerdas
secara rohani.
Kingdom Quote:
Kecerdasan rohani tidak berbanding lurus dengan jabatan rohani ataupun lamanya seorang menjadi Kristen.

See also  Pengakuan Menentukan Arah Mujizat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Website Protected by Spam Master