Agama Damai yang Bergaris Keras

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” Mazmur 23:1-4
Hampir setiap manusia menyadari bahwa ada Tuhan yang menciptakan dan mengatur langit dan bumi. Namun bagaimana Tuhan dan apa peran Tuhan di dalam hidup manusia hal ini seringkali dipahami berbeda. Bagaimana “mengerti dan memaknai Tuhan“ akan terefleksi dari perbuatan penganutnya secara berbeda.
Agama A dan agama B, memaknai sifat Tuhan yang berbeda. Bahkan seagamapun bisa berbeda. Kita bisa melihat perilaku seseorang yang mengaku beragama “damai” namun ia murka ketika ada yang mengkritik ataupun menyalahkan agamanya.
Tentu ini akan menggambarkan sifat dari Tuhan yang disembahnya, terlepas masih ada interpertasi yang berbeda dari masing- masing para penganutnya. Kalau kita cermati dalam setiap agama biasanya paling tidak ada dua aliran/ kelompok yang berbeda “moderat dan radikal“ atau disebut juga “garis lunak dan garis keras” atau juga “kaum bumi bulat dan kaum bumi datar“.
Ciri yang garis keras biasanya memisahkan diri dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, baik teknologi, ideologi politik maupun sistem ekonomi (di dalam Kristen kelompok seperti ini juga ada. Biasanya mereka tidak boleh nonton bioskop, tak boleh nonton siaran televisi, tak boleh berdandan, dsb).
Dalam hal kasus “penistaan agama“ kasus ini bisa sampai ke ranah hukum bukan karena sudah memenuhi unsur hukum tapi karena tekanan publik yang agamanya merasa dinista. Sangat jelas interpretasi tentang “siapa dan bagaimana” sifat Tuhan menentukan apakah agama dan umat agama tersebut “gampang merasa tersinggung atau ternista“.
Jika mereka menginterpertasikan Tuhannya penghukum dan bukan pengampun, maka umatnya pun bersifat penghukum. Tentu akan beda, bila kasus yang sama dikenakan pada agama yang Tuhannya diinterpretasikan sebagai pengampun dan bukan penghukum.
Seorang guru bertanya tentang sifat Tuhan kepada anak didiknya. Ia berkata, “Tuhan sanggup memberkati aku jadi orang kaya.” Ternyata bapaknya adalah seorang pedagang. Seorang anak yang lain menjawab, “Tuhan selalu menyediakan makanan setiap hari.” Ternyata bapaknya adalah seorang koki. Seorang anak yang lain menjawab, “Tuhan adalah penyembuh yang sakit.” Ternyata bapaknya adalah seorang dokter.
Daud menggambarkan Tuhannya sebagai Gembala yang selalu menyediakan rumput dan air, yang melindungi dari musuh dengan tongkatnya sehingga dapat memberikan ketenangan.
Bagaimana interpretasi sifat Tuhan menurut Anda? Penghukum? Pengasih? Aatau seperti seorang Gembala yang memberikan makan, melindungi, bahkan berkorban bagi para domba-Nya? Kesimpulannya, interpertasi sifat Tuhan akan menentukan apakah penganut agama tersebut cinta damai atau gampang murka. [DD]
Questions:
1. Benarkah ada ‘garis keras’ dalam kekristenan?
2. Bagaimana sifat Tuhan menurut Anda?
Values:
Kasih yang dilakukan Sang Raja dengan mati disalib hanya dimengerti oleh orang yang dipilih-Nya saja.
Kingdom Value:
Tanpa pernah merasakan kasih Tuhan, seseorang tak akan pernah bisa mengasihi sesama.
See also  In God (Dollar) We Trust

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*