Cuci Tangan

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri”_ Matius 27:24
Perkataan “Cuci Tangan” sering kita dengar, perkataan ini lazim kita pahami sebagai tindakan melepas tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas kita. Darimana asal perkataan ini? Pada saat Jumat AGUNG, umat Kristen merayakan hari penyaliban Yesus Kristus (Isa Almasih). Di saat itu ada kisah “cuci tangan” (melepas tanggung jawab) yaitu kisah sang Gubernur Jenderal Pilatus yang sudah berusaha keras dengan berbagai cara membebaskan Yesus dari keinginan para imam dan rakyat Yahudi, untuk Yesus tidak dihukum mati dengan cara disalibkan. Pilatus yang berkuasa membebaskan orang yang bersalah (memberi grasi) pada Hari Paskah memberikan pilihan: ia membebaskan Yesus yang tak bersalah atau Barabas penjahat besar. Namun para Imam justru memilih Barabas sang penjahat yang dibebaskan (Yohanes 18:38-40).
Lalu Pilatus masih berusaha lagi dengan menyiksa dan mengolok olok Yesus, dengan hukuman cambuk dan memberi mahkota duri di kepada-Nya, dengan harapan para imam dan orangYahudi berbelas kasihan dan membatalkan tuntutan hukuman Salib. Namun usaha inipun gagal, malahan para Imam menuduh Pilatus sedang melawan Kaisar, kalau tidak menghukum Yesus (Yohanes 28:12).
Sebenarnya para imam sendiri juga “cuci tangan”. la tahu tak ada kesalahan pada Yesus, rakyatlah yang mengakui Yesus Mesias, Yesus sendiri tidak pernah mengikrarkan diri di depan publik bahwa la Mesias ataupun Raja, namun mereka berusaha menyingkirkan Yesus karena semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus saat la mengajar dan mengadakan mujizat. Yesus adalah saingan berat mereka. _”Kata Pilatus kepada mereka: “Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.” Kata orang-orang Yahudi itu: “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang”_ Yohanes 18:31).
Nyatanya kita masih bisa melihat ketulusan seorang Pilatus, ia berusaha membebaskan orang yang tak bersalah secara hukum. Beda dengan para imam mereka sepertinya tak mau melakukan perbuatan yang berdosa dan tak mau melanggar hukum agama, – kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang, tetapi sebenarnya merekalah munafik sejati, memakai tangan kekuasaan Pilatus untuk menghukum Yesus.
Kesimpulannya, kita semua suka “cuci tangan”. Jika kita adalah seorang rohaniawan kita harus lebih waspada dan berhati-hati, sistem dan budaya keagamaan bisa membuat kita berperilaku munafik, kelihatan tangan kita bersih tetapi bisa jadi tangan kitalah yang paling berdarah. [DD]
Question:
1. Apakah yang dimaksud dengan cuci tangan?
2. Menurut Anda benarkah pada dasarnya sifat manusia enggan bertanggung jawab?
Values:
Warga Kerajaan sejati seharusnya tak suka cuci tangan, apalagi mengorbankan orang lain demi keuntungan diri sendiri.
Kingdom Quote:
Tidak seorangpun seperti Kristus yang rela dipersalahkan walau tidak berbuat salah karena kasih-Nya kepada umat manusia.
See also  Berbahasa Roh sebagai Identitas Insan Pentakosta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*