Kebahagiaan adalah Keputusan

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1:2-4
Kebahagiaan sebenarnya adalah bersumber pada rasa aman, rasa puas dan damai di hati, bukan karena situasi. Situasi yang baik dan ideal bisa menambahkan kebahagiaan. Punya banyak uang bisa menambah kebahagiaan, tetapi sesungguhnya kebahagiaan adalah hasil keputusan yang ada di hati seseorang.
Suatu ketika istri John Maxwell, pembicara dan motivator top, Margaret, sedang menjadi pembicara di seminar tentang kebahagiaan. Maxwell duduk di bangku paling depan. Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. “Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?” Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab : “Tidak!” Seluruh ruangan terkejut. “Tidak!” katanya sekali lagi. “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia”. Lalu Margaret melanjutkan, “John adalah seorang suami yang sangat baik. Dia tidak pernah judi, mabuk dan main serong.
Dia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia…” Tiba tiba ada suara bertanya, “Mengapa?” Jawabnya, “karena tidak ada seorang pun di dunia ini yg bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri” Pada kenyataannya seperti jawaban Margaret, tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia. Baik itu pasangan hidup, sahabat, uang, hobi, atau apapun. Semua itu tidak bisa membuat bahagia.
Karena yang bisa membuat kita bahagia adalah diri sendiri. Kita bertanggung jawab atas diri sendiri. Hari-hari ini banyak suami yang baik ditinggal istri karena istri berpatokan bahwa standar bahagia adalah pemenuhan materi. Banyak pasangan berharap pasangannya akan menjadi sumber kebahagiaan, sementara waktu mungkin pasangan bisa membuat bahagia. Namun karena sumber kebahagian sesungguhnya bukanlah pemenuhan keinginan-keinginan, maka pada akhirnya mereka akan kecewa. Bahkan keluarga yang sangat kaya sekalipun bisa kecewa dan sengsara di tengah kemewahan, bagai semut mati di tengah gula.
Ayat bacaan hari ini mengajarkan di dalam pencobaan, ujian, masalah dan keterbatasan apapun yang anda alami putuskan untuk anda bahagia. Artinya ketika ujian seperti halnya COVID saat ini, yang membatasi aktivitas kita, tetap putuskan untuk bahagia, – anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apapun dampaknya.
Jika anda dapat memutuskan untuk bahagia, apapun keadaan Anda, maka Anda akan bisa menerima keadaan terbatas Anda. Lalu kemudian yang terjadi adalah Anda bisa mengembangkan manusia rohani Anda, sehingga muncul ketekunan, kearifan, dan karakter yang baik. Pada akhirnya akan ada buah yang baik yang dihasilkan dari kedewasaan rohani Anda. Semua ini bermula dari keputusan Anda untuk menjadi bahagia apapun situasi Anda. Anda setuju? [DD]
Questions:
1. Apa arti kebahagian menurut anda ?
2. Bisakah orang memutuskan untuk bahagia di dalam situasi yang tidak ideal ?
Values:
Sumber kebahagian sejati warga Kerajaan bukan materi tetapi menyadari bahwa ia dikasihi Sang Raja.
Memutuskan bahagia apapun keadaannya bukan munafik, tetapi merubah standar arti bahagia, sehingga makin arif dan bijak.
See also  Yesus, Teladan Integritas dalam Perbuatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*