Kekuatiran akan Masa Depan

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:33
Merebaknya wabah Covid-19 ternyata bukan saja membawa dampak kepada masalah kesehatan fisik saja, namun ternyata berimbas juga kepada kondisi kesehatan mental manusia. Memang masih banyak orang yang belum terjangkit oleh Covid-19 dan banyak juga yang berhasil sembuh dari Covid-19, namun banyak juga yang merasakan depresi atau tekanan batin akibat wabah Covid-19 ini.
Ada yang harus kehilangan anggota keluarga atau orang yang dikasihinya karena meninggal dunia akibat Covid-19. Ada pula yang harus kehilangan pendapatan dan pekerjaan akibat pembatasan sosial selama wabah Covid-19. Banyak pula yang ketakutan akan terinfeksi oleh penyakit Covid-19, dan banyak juga yang menjadi tertekan karena tidak dapat meninggalkan kediamannya selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akibat ketatnya protokol kesehatan selama wabah Covid-19.
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Toronto, Kanada, menemukan bahwa selama terjadinya wabah Covid-19 ini terdapat peningkatan tingkat depresi sebanyak tiga kali lipat dibandingkan masa sebelum terjadinya wabah Covid-19. Bahkan di tahun 2020 Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDKJI) menyatakan selama terjadinya wabah Covid-19 terdapat peningkatan masyarakat yang mengalami berbagai jenis depresi atau gangguan kejiawaan sebanyak 57,6%, padahal di masa normal hanyalah sebesar 11,6%. Meningkatnya angka depresi atau gangguan jiwa tersebut jelas terkait akibat adanya rasa takut, cemas atau kuatir akan masa depan pasca merebaknya wabah Covid-19.
Jauh sebelum manusia mengalami wabah besar-besaran seperti saat ini, Tuhan Yesus sudah membahas mengenai masalah kekuatiran atau kecemasan dalam Matius 6:25-34. Dari penjelasan di perikop ini jelas Tuhan Yesus menyamakan antara kekuatiran dengan iman, sebab sesungguhnya baik rasa kuatir/cemas dan iman memiliki suatu kesamaan pokok, yaitu sama-sama mempercayai akan terjadinya sesuatu di masa depan yang saat ini sama sekali belum terlihat atau belum terjadi. Perbedaannya hanya titik fokusnya saja.
Iman berfokus kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya (ayat 33), sedangkan rasa kuatir berfokus hanya kepada kehidupan kita sendiri, yakni apa yang kita makan, minum dan pakai, serta hal lainnya tentang tubuh kita, termasuk kesehatan diri sendiri. Bukan berarti kita tidak perlu merencanakan atau mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan dan tubuh kita sendiri, tetapi kita harus tahu bahwa ada hal-hal dalam kehidupan dan tubuh kita yang tidak dapat kita atasi dan bersifat tidak pasti, misalnya mencegah tertular Covid-19.
Meskipun kita sudah disiplin menerapkan protokol kesehatan, toh kita masih juga bisa tertular Covid-19. Demikian juga kematian, secanggih-canggihnya perawatan kesehatan yang kita terima toh kita tidak dapat menolak datangnya kematian.
Hal-hal yang tidak dapat kita atasi dan tidak pasti itulah yang justru membuat kita semakin cemas karena kita tidak memiliki kuasa untuk mengaturnya atau memastikannya. Kuncinya adalah hanya menyerahkannya kepada Tuhan yang berkuasa atas segalanya dalam kehidupan kita. Ubah fokus kita, bukan terfokus kepada masalah kehidupan dan tubuh yang tidak pasti dan di luar jangkauan kita, tapi berfokuslah kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya. Justru saat itulah maka semua hal yang tidak bisa kita atasi atau tidak pasti, akan disediakan atau dipenuhi oleh Tuhan. [YMH]
Selengkapnya kunjungi AquilaCenter
Questions:
1. Selama masa wabah ini hal apakah yang paling membuat Anda kuatir?
2. Menurut Anda, bagaimana caranya agar anda bisa fokus kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati adalah warga yang tidak kuatir kepada masalah kehidupan dan tubuhnya, tetapi berfokus kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6)
See also  Train

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*