Malu adalah Bagian dari Iman

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Matius 7:16:17
Ketika saya ke Jepang, hal paling menarik adalah ketertiban dan kebersihan yang menjadi budaya penduduknya. Di Tokyo yang padat kendaraan, tidak satu pun saya jumpai kendaraan yang kelihatan kotor, semua bersih dan tidak ada yang penyok atau tergores.
Bahkan saya melihat beberapa taxi yang mobilnya buatan Tahun 90an, semua kelihatan bersih dan mulus. Yang hebat lagi ethos kerja orang Jepang, walau jam kantor pulangnya jam 5 sore, namun jarang pegawai kantor swasta di Jepang pulang on time, rata-rata mereka lembur, dan extra waktu itu pun tidak dibayar sebagai lembur oleh perusahaan mereka. Ini menunjukkan betapa ethos kerja orang Jepang sangat hebat. Mereka malu dengan tetangga kalau kelihatan pulang tepat waktu.
Keadaan lingkungan di Jepang sangat bersih. Saat ada di pusat perbelanjaan, saya kesulitan mencari tempat sampah, namun saya tak melihat sampah berceceran di jalan-jalan. WC umum selain sangat bersih juga modern, memakai sistem cebok otomatis yang berair hangat. Saya juga tak melihat petugas kebersihan yang berjaga-jaga ada di WC umum , karena para pemakai WC ikut menjaga kebersihan setelah memakainya.
Di Indonesia, saya sering mendengar kalimat “kebersihan adalah bagian dari iman”. Seandainya kebersihan memang ada hubungannya dengan iman, dan kebersihan adalah indikator iman, maka dapat dipastikan iman orang Jepang lebih besar dari rata- rata iman orang Indonesia. Walau Negara Cina boleh saja bangga dengan pembangunan mall dan gedung pencakar langitnya, namun kebersihan WC-nya sangat jorok. Sekali lagi, kalau kebersihan adalah indikator iman, maka penduduk Cina dan Indonesia, bisa dikatakan tidak beriman bila dibanding orang Jepang.
Mengapa kebersihan begitu utama di Jepang? Pemandu wisata mengatakan, dengan bersih itu menunjukkan seseorang yang rajin, dan orang Jepang “sangat malu” kalau dibilang malas. Akibatnya mereka menjadi pekerja keras, dan selalu tepat waktu dalam berjanji, juga tertib dalam antrian.
Kita pun sudah sering mendengar pejabat Jepang mengundurkan diri jika melakukan kesalahan, atau bawahan mereka melakukan kesalahan, bahkan yang tak sengaja sekalipun. Jadi budaya malu-lah yang mendasari semua. Di Jepang bisa dikatakan “malu adalah bagian dari Iman”. Bagaimana dengan Anda dan saya? Masih punyakah kita rasa malu? Jangan- jangan urat malu kita sudah putus. [DD]
Question:
1. Menurut anda benarkah kebersihan adalah bagian dari Iman?
2. Mengapa orang jepang yang dianggap kurang beriman justru hidupnya sangat bersih dan rajin?
Values:
Warga kerajaan sejati akan hidup sesuai teladan sang raja yang selalu berbuah kebaikan.
Kingdom Quote:
Jika kebersihan dianggap bagian dari Iman, maka banyak orang yang tak beragama, lebih beriman.
See also  Pribadi-Nya atau Mujizat-Nya?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*