Menag Baru, Tantangan Baru bagi Gereja

“Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria…. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.”Kisah Para Rasul 8:1,4
Pergantian menteri agama yang baru disambut gembira berbagai umat beragama di Indonesia. Pernyataan dan kebijakan awalnya segera viral di berbagai medsos disambut gembira berbagai pihak. Konon kabarnya ijin mendirikan tempat ibadah yang selama ini terhambat baik oleh masyarakat maupun oleh pejabat setempat, akan didata yang kemungkinan akan diberi kemudahan. Tentu saja hal ini dianggap sebagai jawaban doa, yang mana selama ini gereja terhambat pertumbuhannya oleh karena peraturan-peraturan yang berlaku sebelumnya.
Namun benarkah pertumbuhan gereja terhambat karena ulah sekelompok orang yang menentang pendirian gedung-gedung gereja? Apakah pertumbuhan gereja berkaitan dengan pendirian gedung-gedung fisik? Kalau kita memperhatikan sejarah gereja sejak awal, justru hambatan, penganiayaan bahkan pembunuhan menjadi warna pertumbuhan gereja. Bahkan semua rasul mengalami persekusi dan hanya Yohanes yang mati karena usia. Yang lain, semuanya mati menjadi martir.
Tetapi apakah pertumbuhan gereja terhambat? Justru semakin dihambat semakin merambat sehingga kerajaan Romawi pada masa itu kewalahan dengan pertumbuhan gereja yang luar biasa. Sehingga pada akhirnya karena alasan politis, Kristen ditetapkan menjadi agama negara oleh kaisar Konstantin.
Semua orang diwajibkan menjadi Kristen, gereja yang tadinya berada dibawah tekanan, tiba-tiba tampil menjadi kekuatan baru sehingga gereja dipenuhi jemaat yang bukan karena pertobatan tetapi karena undang-undang. Tokoh-tokoh gereja yang tadinya buronan, sekarang menjadi orang penting berlimpah fasilitas yang tentu saja secara manusia, itu sangat menyenangkan. Tidak ada lagi tantangan, tidak ada lagi kesulitan.
Gedung-gedung ibadah dibangunlah dengan megahnya, termasuk Hagia Sofia di Istanbul. Tetapi tanpa disadari akibatnya, gereja yang tadinya rohani perlahan tapi pasti menjadi duniawi dan sejarah mencatat itulah masa gereja memasuki jaman kegelapan. Dengan demikian, jelaslah apa yang tertulis dalam Markus 4:19, “lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”
Bukan tekanan atau kesulitan, tetapi seringkali kelimpahan dan kemewahanlah yang menjadi musuh iman Kristiani. Covid-19 seharusnya menyadarkan kita bahwa kemegahan lahiriah menjadi tidak ada artinya. Gedung-gedung mewah nan megah tidak bisa lagi digunakan sebagai sarana peribadatan. Oleh karena itu, jika saat ini anda dalam tekanan dan kesulitan, bersyukurlah karena dalam kelemahan dan kesulitanlah kuasa Allah menjadi nyata. Amin [LS]
Selengkapnya kunjungi AquilaCenter
Questions:
1. Apakah kenyamanan yang kita alami sebagai pertanda bahwa iman kita sedang dalam masa suram?
2. Bagaimana sikap Anda jika sedang dalam kenyamanan hidup?
Values:
Gereja Tuhan seharusnya makin dihambat semakin merambat (bertumbuh pesat)
*Gereja yang kuat adalah gereja yang ada dalam tekanan bukan kemudahan.*
See also  Jalan Ke Arah Penyelesaian Amanat Agung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*