Pengakuan Menentukan Arah Mujizat

“Dan, orang-orang berkata kepadanya, “Yesus dari Nazaret sedang lewat.” Maka, berserulah orang buta itu, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku” Lukas 18:37-38
Tidak ada orang yang ingin hidup dalam dunia yang gelap alias buta. Tidak terkecuali seorang buta di kota Nazaret. Namun yang membuat ia berbeda denga orang buta lainnya di kota itu adalah ia menangkap momentum kedatangan Tuhan dengan tepat. Hanya ada satu keinginnnya dan itu bukanlah kekayaan harta yang melimpah, namun ia mau melihat. Jadi ketika ia mengetahui ada Yesus yang lewat – ia pasti sudah pernah mendengar berita-berita mengenai Yesus, ia berteriak dengan suara yang kencang. Ia tidak mau melewatkan kesempatan itu. Bagi pengemis ini Yesus yang ia sudah dengar tentunya bukan sekedar seorang anak tukang kayu dari Nazaret tapi ia mengakui dan menyebutnya sebagai Anak Daud. Sebutan anak Daud adalah sebutan messianic yaitu Pribadi yang menggenapi semua janji para nabi. Dia adalah pusat pengharapan seluruh orang Israel.
Namun…. orang-orang yang berjalan di depan rombongan, memarahi orang buta itu dan menyuruhnya diam. Akan tetapi, ia malah berteriak lebih keras, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh agar orang buta itu dibawa kepada-Nya. Ketika orang buta itu mendekat, Dia bertanya kepadanya, “Apa yang kamu inginkan supaya Kuperbuat bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Tuhan, aku mau mataku bisa melihat.” Yesus berkata kepadanya, “Melihatlah, imanmu telah menyembuhkanmu.” Seketika itu juga, ia dapat melihat dan mulai mengikuti Yesus sambil memuji Allah. Ketika orang banyak melihat hal itu, mereka juga memuji Allah.
Pengakuan yang benar menentukan arah terjadinya mujizat. Pengakuan pengemis buta ini didasarkan pada imannya yang benar. Dan pengakuan yang benar ini pasti akan diuji. Sebab ketika ia menyerukan nama anak Daud, orang-orang di sekitarnya memarahinya. Ia dapat memutuskan apakah ia berhenti untuk berseru ataukah melanjutkan seruan tersebut sampai Tuhan menoleh kepadanya. Ia melakukan pilihan yang kedua. Ia tetap konsisten dan persisten untuk terus berseru sampai Tuhan Yesus mendengar dan memanggilnya. Tidak butuh waktu yang lama akhirnya imannya dijawab dan Tuhan Yesus menyembuhkannya.
Pertolongan Tuhan dapat berupa mujizat dan providensia atau pemeliharaan-Nya. Namun pada hari ini kita belajar prinsip seorang yang buta namun ia memiliki pengakuan yang benar dan dia tidak menyerah. Kuncinya adalah pengakuan yang benar dan tidak menyerah sampai kita melihat tangan Tuhan turun atas hidup kita. Amin [DH]
Questions:
1. Bagaimana respon Anda jika sedang mendapatkan masalah?
2. Pelajaran apa saja yang dapat kita ambil dari kisah pengemis buta tersebut?
Values:
Kuncinya adalah pengakuan yang benar dan tidak menyerah terhadap keadaan, maka Tuhan akan turun menolong kita.
Pengakuan yang benar menghasilkan akibat yang dahsyat.
See also  Growing Zone (Area Pertumbuhan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*