Melarang atau Mendorong Anak?

“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya la menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, la marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Markus 10:13-14
Salah satu dampak yang besar terjadi pada masa pandemik ini adalah pembatasan kelompok orang beribadah. Salah satu kelompok yang mengalami dampak adalah anak-anak, karena anak-anak pada kelompok usia di bawah 12 tahun dilarang untuk datang ke gereja. Tentu bisa kita bayangkan bahwa tidak mudahnya bagi anak untuk menghadapi situasi ini. Saat anak-anak tersebut terpaksa harus mengikuti kegiatan ibadah secara online, maka seringkali terdengar respon mereka yang begitu kangen untuk bertemu dan beribadah bersama.
Tidak mudah menumbuhkan minat, perhatian, antusias anak untuk mengikuti ibadah secara online, sangat dibutuhkan kesediaan orang tua untuk mendampingi, men-support dan mendorong anak untuk mengikuti hal tersebut.
Di satu sisi anak-anak dilarang untuk keluar beribadah secara langsung, tetapi di sisi lain orang tua perlu mendorong agar anak-anak tetap memiliki kerinduan beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sekedar melarang mereka keluar beribadah onsite tanpa memberikan dorongan yang sungguh-sungguh akan memberi dampak yang besar terhadap munculnya situasi yang disebut Lost Generation pada gereja.
Firman Tuhan hari ini menunjukkan sebuah situasi yang berhubungan dengan anak. Ada 3 respon bisa dipelajari di sana. Respon pertama yaitu ada para orang tua yang dengan penuh kerinduan membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Mereka adalah para orang tua yang sadar bahwa bukan hanya mereka orang dewasa yang bisa merasakan kehadiran dan karya Tuhan Yesus pada waktu itu. Mereka memiliki kerinduan agar anak-anak juga mengalami arti kehadiran Yesus.
Tetapi kemudian kita melihat respon yang lain, yaitu para murid-Nya yang justru melarang anak-anak tersebut datang kepada Yesus. Tentunya sebuah ironi, para murid, yang mungkin saat ini mewakili simbol: orang tua, orang dewasa, atau bahkan aktivis-aktivis pelayanan justru melarang anak-anak tersebut untuk memiliki pengalaman relasi dengan Tuhan. Mengapa demikian?
Alasan utama orang tua kerap melarang anaknya melakukan sesuatu adalah: dianggap belum berhak, belum perlu atau pantas menerima sesuatu karena masih terlalu kecil atau dianggap mengganggu, bikin keonaran. Tetapi respon Yesus adalah justru meminta agar anak-anaktersebut datang kepada-Nya, dan bahkan memberkati mereka.
Pertanyaan untuk kita para orang tua dalam aspek kualitas relasi anak dengan Tuhan; Anda tipe melarang atau justru mendorong dengan segenap hati? [HA]
Question:
1. Sudahkah Anda mengenalkan anak-anak kepada Tuhan Yesus?
2. Dukungan seperti apa yang Anda berikan supaya anak-anak mau mengenal Tuhan lebih dalam?
Values:
Miliki kerinduan seperti Yesus yang mendekatkan dan mengenalkan anak-anak kepada-Nya.
Kingdom Quote:
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. (Mazmur 8:2)
See also  Keberanian untuk Bertindak

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*