Yesus Bukan Wuqing

“Lalu kataNya kepada mereka: “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Matius 26:38
Wuqing—dalam bahasa Mandarin berarti tidak punya perasaan. Orang seperti ini tidak bisa merasa senang, sedih, marah, dan lain-lainnya. Dunia menganggap orang wuqing ini tangguh. Maklum, dia tampak biasa-biasa dalam semua kondisi. Biarpun disakiti sedemikian rupa, dia juga lempeng-lempeng saja. Orang gereja juga menganggap kalau tidak punya perasaan negatif itu keren

Bayangkan, sudah sakit, babak belur, kena musibah, masih mengucap syukur sambil tersenyum. Bukankah itu rohani sekali? Tak jarang, karena prinsip ini, orang gereja menganggap orang yang mengeluh itu dosa dan akhirnya menghakimi mereka kurang beriman.

See also  Tidak Kompromi Pada Kegelapan
Tak jarang, karena dihakimi sebagai orang berdosa, orang yang punya masalah merasa malas curhat dengan orang gereja. Tak hanya malas curhat dengan orang gereja, mereka juga jadi malas curhat dengan Tuhan. Apa gunanya bicara dengan Tuhan sementara merasa diri sebagai orang berdosa? Memangnya, Tuhan juga mau mendengar? Jangan-jangan, Tuhan malah murka dan menganggap keluhan sebagai sesuatu yang najis penuh dosa?
Padahal, di alkitab pun dituliskan kalau Yesus sendiri pernah berkeluh kesah dengan Tuhan. Tidak hanya berkeluh kesah, Yesus juga pernah marah kepada para pedagang dan penukar uang di bait Allah (Matius 21:12). Jadi, Yesus adalah manusia biasa yang punya perasaan. Jika Yesus pun demikian, mengapa kita menuntut orang lain menjadi orang yang wuqing?
Menurut KBBI, omelanlah yang diartikan bersungut-sungut. Contohnya mengomel itu seperti bangsa Israel yang mengomel-ngomel menuntut Tuhan sampai Tuhan benar-benar murka. Hal ini tentu tidak baik dan tidak benar. Kita tidak boleh mengomeli, memarahi, dan menyalahkan Tuhan. Ini dosa dan wajar kalau mendatangkan murka Allah. Nah, kalau keluhan, itu adalah ungkapan yang keluar karena perasaan susah (karena menderita sesuatu yang berat, kesakitan, dan lain-lainnya).
Mengungkapkan isi hati kepada Tuhan itu bukan dosa. Kita boleh saja mengatakan kalau kita sedang kecewa, sedang marah, sedang sedih. Namun, tentu saja pada akhirnya kita harus meletakkan semua perasaan itu di kaki Tuhan. Membicarakan perasaan kepada Tuhan itu tidak salah. Tuhan mau mendengar keluh kesah dan pendapat kita. Tuhan paham betul perasaan kita sebagai manusia. Anda mengerti? [PF]
Question:
1. Apakah kita boleh curhat kepada Tuhan?
2. Mengapa kita boleh curhat kepada Tuhan?
Values:
Berserulah pada Tuhan dan Tuhan akan mendengar kita.
Kingdom Quote:
Curhat dan keluh kesah pada Tuhan adalah bagian dari komunikasi kita dengan Tuhan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*