Apa yang Kita Tinggalkan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Filipi 1:21-22a
Akhir-akhir ini kita seringkali dikejutkan dengan berita duka. Entah itu dari keluarga dekat, keluarga jauh, teman, ataupun kenalan lainnya yang meninggal akibat terpapar virus covid 19. Mereka meninggal direntang usia yang menurut kita belum waktunya.
Jangan tertipu dengan usia muda karena syarat mati tidak harus tua. Jangan pula terpedaya dengan tubuh yang sehat karena syarat mati juga tidak mesti sakit. Saat renungan ini dibuat, saya juga sedang menjalani masa karantina akibat terpapar virus covid 19.
Kematian bisa saja menghampiri kita setiap saat karena di dunia ini tidak ada satupun yang pasti kecuali kematian. Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan kematian sebab sebagai milik Kristus kita sudah tahu pasti kemana setelah kita mati. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah yang akan kita tinggalkan setelah kita mati? Kita bisa saja meninggalkan sebuah kenangan, namun kenangan hanya bersifat sementara.
Mau berapa lama orang-orang yang kita kasihi, keluarga, teman ataupun sahabat yang berkabung meratapi kematian kita? Atau selama hidup kita berhasil membangun sebuah bangunan megah, perusahaan yang maju, gedung bertingkat bahkan sebuah monumen untuk mengenang jasa-jasa kita, semuanya bisa rusak, lapuk dan hancur.
Mungkin kita juga bisa meninggalkan begitu banyak warisan harta dan keuangan yang berlimpah, tetapi warisan harta dan keuangan jika tidak dikelola dengan baik bisa habis dalam sekejab. Jadi apa yang bisa kita tinggalkan?
Tidak salah kita mempersiapkan harta dan keuangan bagi keturunan kita agar mereka dapat melajutkan hidup ketika kita tinggalkan apalagi peranan kita adalah pencari nafkah utama di dalam keluarga. Pencapaian akhir kehidupan kita sebagai orang percaya adalah harus meninggalkan sebuah legacy (warisan rohani), karena sebuah warisan rohani (legacy) akan diteruskan kepada anak dan cucu bahkan kepada keturunan-keturunan selanjutnya yang sifatnya kekal.
Warisan Rohani (legacy) yang bisa kita tinggalkan adalah nama baik, sebab nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas (Amsal 22:1). Nama baik dibangun dari perbuatan baik yang mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Ketika kita dengan sungguh-sungguh menjaga nama baik dan meninggikan nama Tuhan, maka hidup kita juga akan memunculkan sebuah karakter baik yang berdampak bagi generasi-generasi kita selanjutnya.
Salah satu contoh orang yang tercatat dalam Alkitab yang mampu meninggalkan warisan rohani yang baik bagi generasinya adalah Obed Edom. Obed Edom sehari-hari bertugas sebagai penjaga pintu gerbang, dalam terjemahan lain disebutkan sebagai Janitor (tukang bersih-bersih). Ia juga melayani sebagai pemusik lapis kedua Bait Allah sebagai pengiring nyanyian. Sekalipun di bidang- bidang yang sederhana, Obed Edom melakukan tanggung jawabnya dengan tekun dan setia sehingga Tuhan melihat kesetiaan dan kesungguhan hatinya.
Kehidupan Obed Edom sangat diberkati Tuhan bukan saja secara finansial, tetapi melalui kehidupannya, ia melahirkan keturunan yang adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan dipercaya untuk memegang pemerintahan. Keturunannya adalah pemimpin-pemimpin yang penuh hikmat, kuasa, kasih karunia, kepandaian dan kekayaan dan mereka semua adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Anda mengerti? [RSN]
Question:
1. Apa yang sudah kita persiapkan sebagai warisan bagi generasi kita selanjutnya?
2. Siapa saja yang merasakan buah-buah dari hidup kita?
Values:
Pencapaian akhir kehidupan seseorang bukan dinilai seberapa banyak harta yang ditinggalkan, tetapi siapakah keturunan (jasmani/rohani) yang telah kita bina.
Kingdom Quote:
Pencapaian akhir kehidupan kita sebagai orang percaya adalah harus meninggalkan sebuah legacy yang bersifat kekal.
See also  Reputasi Vs Dedikasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*