Apakah Kita Orang Baik atau Orang Jahat?

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:18-19
Ketika seorang anak balita dilarang ibunya makan gula-gula kesukaannya, ia protes, “ibu jahat”. Ketika Gubernur Ahok memaksa menggusur penghuni pemukiman liar dan memindahkan ke Rusun dengan tanpa ganti rugi, Ahok di protes karena melakukan kejahatan kemanusiaan, melanggar HAM. Menurut bahasa hukum melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain adalah kejahatan. Ketika seorang Ayah melarang anaknya mengendarai Mobil tanpa SIM (Surat Ijin Mengemudi), anaknya protes dan berkata kalau ayahnya jahat dan tak sebaik ayah temannya yang memperbolehkan mengemudi tanpa SIM.
Melihat contoh kasus-kasus tersebut bukankah kejahatan jadi “relatif”? Pada kenyataannya seringkali orang tidak bisa melihat kejahatan/kesalahannya sendiri, tetapi sangat jelas melihat kejahatan kesalahan orang lain. Pada contoh tersebut, siapa sebenarnya yang jahat? Ibu atau anak balitanya? Gubernur Ahok atau pemukim liar? Ayah atau anaknya?
Seorang ahli kriminal berteori bahwa kejahatan tumbuh subur oleh karena kemiskinan dan kesenjangan sosial, betulkah demikian? Bukankah kita bisa melihat banyak orang justru secara licik “menjual kemiskinannya”? Menurut hukum mungkin seorang yang berprofesi sebagai pengemis tidak melanggar, tetapi bagaimana kalau ia seorang yang berpura-pura miskin padahal di desa rumahnya besar dan dapat menyekolahkan anaknya sampai universitas? Apakah ini bukan kejahatan? Bagaimana pula dengan para politikus yang mengakali rakyat, terpilih karena membeli suara. Bagaimana dengan mereka para konglomerat yang menyembunyikan Kekayaannya di negara tertentu supaya terhindar pajak?
Bagaimana pula dengan pemimpin “Mega Church” yang kemewahan hidupnya melebihi kemewahan selebritis? Bukankah secara hukum mereka semua tidak melakukan kejahatan? Lalu apa definisi kejahatan menurut Anda? Apakah menurut Anda, Anda orang jahat atau orang baik? Apakah benar setelah Anda percaya Tuhan dan aktif di Gereja, sekarang hati Anda tidak lagi jahat? Pernahkah Anda senang melihat orang susah, atau susah melihat orang senang?
Pernahkah Anda menjadi tidak suka melihat sikap seseorang, lalu tanpa sadar Anda berbicara keburukan orang ini kepada orang lain? Kalau kita membaca ayat bacaan hari ini, Rasul Paulus secara jujur berkata tidak ada kebaikan di dalam dirinya, memang ia ingin berbuat baik, tetapi selalu yang jahat yang ia perbuat. Bahasa kerennya selalu “ada udang di balik batu”. Ada maksud buruk dibalik semua kebaikan kita. Bagaimana dengan Anda? [DD]
Question:
1. Benarkah bahwa tak ada kebaikan di dalam hidup kita?
2. Bisakah kita melihat kejahatan di dalam diri kita? Bagaimana kalau kita melihat orang lain? Bisakah kita melihat kejahatannya?
Values:
Tanpa mengenal kasih Sang Raja, kasih manusia terbatas yaitu kasih berharap mendapat balasan, kasih yang berpamrih.
Kingdom Quote:
Kasih Kristus berkorban, kasih manusia berpamrih, yaitu perbuatan baik
yang berharap balasan.
See also  On Eternal Patrol

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*