Bertekun dengan Sehati

”Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”_ Kisah Para Rasul 2:46-47
Dalam Kisah Para Rasul 1:8 diceritakan bahwa sebelum terangkat ke surga, Tuhan Yesus sudah memberikan pesan terakhirnya di bumi kepada para murid-Nya, yaitu bahwa murid-murid- Nya tersebut akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun atas mereka, dan mereka akan menjadi saksi-Nya, di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.
Pesan Yesus tersebut bukan saja mengandung janji akan apa yang dilakukan oleh Roh Kudus kepada para murid-Nya, tapi juga petunjuk untuk bagaimana caranya agar Roh Kudus turun ke atas mereka. Dalam ayat 4, secara spesifik Tuhan Yesus meminta agar murid-murid-Nya tidak pergi meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ untuk menantikan janji Bapa.
Lebih lanjut dalam ayat 8, Tuhan Yesus menyatakan bahwa janji Bapa yang akan mereka terima adalah kuasa (Yunani: dunamis), yaitu kuasa yang sifatnya supranatural, ketika Roh Kudus turun ke atas mereka, dengan tujuan agar mereka dapat menjadi saksi-Nya.
Dari 500 orang yang menyaksikan terangkatnya Tuhan Yesus ke sorga, ternyata hanya 120 orang saja yang akhirnya bersama-sama dengan kesebelas murid yang naik ke ruang atas tempat mereka menumpang utuk bertekun sehati dalam doa. Mereka sadar bahwa kuasa Roh Kudus bukan diperuntukkan agar mereka menjadi sosok yang

hebat sendirian (one man show), tapi kuasa itu diperuntukkan bagi pekerjaan suatu tim, yakni gabungan dari orang-orang percaya.
Dalam ilmu manajemen, salah satu kunci keberhasilan kerja tim (team work) adalah adanya kesatuan dalam tim. Inilah yang menjadi salah satu kunci awal dicurahkannya Roh Kudus ke atas orang percaya, yakni ketika orang-orang bertekun (berkeras hati dan sungguh-sungguh) untuk sehati (Yunani: homothumadon, yang berarti satu tujuan atau satu pikiran), dalam doa.
Ketika mereka sama-sama sungguh-sungguh, dengan satu tujuan dan satu pikiran, berdoa meminta kuasa Tuhan, yang terjadi adalah sungguh luar biasa. Kisah Para Rasul 2:1-47 mencatatkan kebangunan rohani pertama yang dilakukan murid-murid tanpa kehadiran fisik dari Tuhan Yesus. Pada hari Pentakosta itu, tercatat ada tiga ribu orang yang memberi diri dibaptis, hanya dalam satu kali khotbah dari Petrus.
Ayat nats kita hari mengajarkan kepada kita bahwa kunci dari dicurahkannya kuasa Roh Kudus ke atas kita adalah ketika kita berdoa sama-sama bertekun (sungguh-sungguh) dalam satu tujuan dan satu pikiran. Jangan ada dari kita yang memiliki agenda tersembunyi untuk keuntungan diri sendiri atau sekelompok orang saja.
Jangan ada pula dari antara kita yang tidak mau sungguh-sungguh berdoa bersama. Singkirkan segala ego dan agenda pribadi kita. Tetapkan diri kita kepada pikiran dan tujuan yang sama, yaitu untuk dapat menjadi saksi Kristus, maka saat kita berkumpul bersama dan berdoa dengan sungguh-sungguh maka kuasa supranatural tersebut akan Tuhan curahkan kepada kita. Amin  [YMH]
Questions:
1. Apa pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum Ia terangkat ke sorga?
2. Mengapa kita perlu bertekun dengan sehati dalam doa?
Values:
Doa bersama yang dilakukan dengan ketekunan dalam kesatuan hati adalah kunci dicurahkannya kuasa Roh Kudus.
Kingdom Quote:
“The Holy Spirit did not come to make them of one accord, He came because they were of one accord… ” – A. W. Tozer
See also  Power of (His) Blood

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*