Bom Bunuh Diri

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”_ Matius 10:38-39
Kita baru saja disuguhi berita sepasang pengantin baru yang berjihad mati bunuh diri dengan bom melekat di tubuhnya di depan Gereja Katedral, Makasar. Segera lagu lama berkumandang “Jangan kaitkan terorisme dengan agama apapun”. Padahal jelas-jelas dengan atribut yang dipakai kita bisa tahu agamanya apa. Kalimat ini diteruskan, “karena tak ada perintah agama apapun untuk membunuh sesama ataupun bunuh diri.” Benarkah ini? Bukankah kita pernah mendengar kalimat: “bunuh orang kafir”?
Konsep jihad dengan membunuh diri dengan harapan membunuh lebih banyak orang lain yang tak sepaham pasti tidak dapat diterima akal waras, orang tak beragama sekalipun. Jadi mengapa reaksi “lagu lama” selalu dikumandangkan, “bom bunuh diri jangan dikaitkan dengan agama?” Tentu ini bertujuan untuk tidak merusak citra agama tersebut.
Tapi apakah dengan sikap ambigu tanpa berterus terang dan menjelaskan, mengapa bisa terjadi ada yang berjihad dengan born bunuh diri, akan membuat persoalan selesai dengan sendirinya ataupun membuat citra agama tersebut terjaga? Bukankah sikap menyangkal (_denial_) seperti ini justru berakibat lebih buruk atau akan berakibat seperti bom waktu di kemudian hari? Dan berakibat citra agama tersebut semakin buruk, karena tak ada yang menyalahkan secara keras bahwa tindakan bom diri ini adalah kekejian.
Di dalam penyebaran agama Kristen, jika ada orang yang terbunuh, orang tersebut disebut martir, namun para martir itu bukan membunuh tetapi menjadi korban pembunuhan oleh orang tidak suka dengan apa yang diajarkan. Hal ini seperti yang dialami oleh Yesus Kristus yang dibunuh (dihukum mati) karena dianggap apa yang dilakukan Yesus bertentangan dengan ajaran agama mayoritas saat itu.
Bulan lalu kita merayakan Paskah, merayakan pengorbanan Kristus di kayu Salib, yang diakui secara terbuka dan tidak ambigu oleh semua orang Kristen. Salah satu pelajaran dari Paskah adalah kita harus rela berkorban bahkan menyerahkan nyawa seperti teladan Kristus. Suatu konsep yang kelihatan sama tetapi berbeda motif dengan “bom bunuh diri” yang dilakukan untuk membunuh banyak orang lain.
Sebenarnya di dalam hidup ini tak ada sikap netral, yang ada adalah Anda mempunyai sikap rela menjadi korban atau Anda suka mengorbankan orang lain. Jika Anda tidak bersikap meneladani Kristus yaitu rela berkorban, Anda akan otomatis cenderung mengorbankan orang lain. Itu sebabnya banyak orang di mulut mengutuk bom bunuh diri tetapi setuju di hati. [DD]
Question:
1. Apakah sebabnya konsep bom bunuh diri tidak benar?
2. Apakah bedanya konsep jihad dengan bom bunuh diri dengan menjadi korban sebagai martir?
Values:
Sang Raja menyerahkan nyawanya walau sebenarnya la berkuasa untuk melakukan pembalasan, demikian juga seharusnya dengan setiap warga Kerajaan.
Kingdom Quote:
_Menyerahkan nyawa bukan berarti bunuh diri, menyerahkan nyawa adalah berkorban demi orang yang kita cintai dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan._
See also  Corona, Ujian atau Azab

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*