Cinta dan Kasih

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi, jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” 1 Korintus 13:1
Ketika kondisi kehidupan dan orang-orang di sekitar kita cenderung mengecewakan, kita cenderung lupa dengan kasih mula-mula. Kita mungkin tidak menyalahkan dan tidak mengutuk Tuhan. Namun, dalam hati, kita mulai merasa kalau kita dianak-tirikan dan Tuhan lebih sayang pada orang lain selain kita.
Apakah hal ini salah? Tentu saja! Namun, hal ini terjadi juga karena kita melihat cerminan cinta yang salah, mungkin dari kedua orang tua kita dan dari lingkungan kita. Dalam bukunya, The Road Less Travelled, Scott M.Peck menjabarkan bahwa cinta yang kita anggap cinta bukan berarti cinta. Dari semua dongeng dan mitos, manusia cenderung memandang cinta sebagai sesuatu yang sensual/eros. Padahal, tidak begitu kenyataannya.
Cinta Tuhan itu kasih agape, sempurna. Karena itu, Tuhan tidaklah seperti manusia yang memandang cinta hanya dari hasrat saja. Tuhan begitu mengasihi kita. Mencintai Tuhan tidaklah seperti mencintai manusia yang memiliki cinta yang bisa berubah. Cinta Tuhan tetap sama dari dulu, sekarang, hingga selama-lamanya.
Bagaimana jika kita tidak yakin akan cinta Tuhan? Tentu kita perlu membicarakan hal ini secara jujur dengan Tuhan. Kata-kata dari manusia tidak semua bisa dipercaya, namun ketika kita berdoa dan bicara jujur kepadaNya, niscaya Tuhan akan memberi jawaban. Jawaban ini tak hanya berupa mujizat spektakuler, tapi damai sejahtera dari sorga dan lawatanNya yang menyembuhkan sakit hati. Inilah bukti cinta Tuhan kepada kita.
Di sisi lain, jika kita sudah merasakan cinta kasih Tuhan yang begitu besar, kita perlu memperlihatkan hal ini kepada orang-orang lain di sekitar kita. Dari tingkah laku dan perkataan kita, kita bisa menunjukkan kalau kasih agape Tuhan berbeda dengan cinta duniawi.
Kita bisa menunjukkan belas kasih Kristus dan membuat orang-orang tidak meragukan cinta Tuhan kepada manusia. Jangan sampai, gara-gara kelakuan dan perkataan kita, orang-orang justru menjadi ilfeel alias hilang feeling pada Tuhan dan menganggap kita omdo alias omong doang. Bisanya teori, praktiknya nol bahkan minus. Menghakimi nomor satu, tapi, menolong ogah-ogahan. Semoga kita semua bisa saling mengasihi sehingga di bumi menjadi seperti di sorga. Amin. [PF]
Questions:
1. Apakah perbedaan kasih Tuhan dengan cinta duniawi?
2. Bagaimana kita menerapkan kasih dalam kehidupan sehari-hari?
Values:
Mintalah Tuhan untuk mengajari kita memahami kasih-Nya.
Memahami kasih Tuhan akan mendatangkan damai sejahtera.
See also  Perhatikan Akar Kita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*