Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

“Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” 1 Korintus 8:9
Pernahkah Anda mendengar kalimat “ngono yo ngono ning ojo ngono” ini adalah ungkapan yang populer dalam bahasa Jawa yang arti hurufiahnya adalah: begitu ya begitu tetapi jangan begitu. Artinya kira-kira adalah “boleh kau lakukan itu tetapi jangan keterlaluan“. Misalnya ada seorang Ibu yang sudah berumur setengah abad lalu ikut mode mengikuti model anak muda saat ini, pakai hotpans pendek dengan model sobek-sobek, atau pakai baju yang pusarnya kelihatan. Ketika seorang melihat hal ini merasa risih, maka ia akan berkata “ngono yo ngono ning ojo ngono“, artinya mengikuti model yang modern boleh saja tapi ya jangan keterlaluan.
Sebenarnya kalimat ini sangat relevan dipakai di kalangan Kristen, mengapa? Karena bagi orang Kristen tak ada hukum “Hitam Putih“, semua tergantung pada tujuan dan motivasinya. Ukuran “boleh dan tidak” untuk hal tertentu relatif, contoh tak ada makanan yang haram dan halal, semua boleh asal itu bermanfaat. Apalagi cara berpakaian, asal dalam batas kesopanan, semua sah-sah saja.
Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan perihal “pastor in style“. Diawali pengamatan cara berpakaian para pendeta yang memakai pakaian dan asesoris super mahal. Gaya berpakaian pendeta ini secara diam-diam diambil dari instagram mereka, lalu diupload di sebuah instagram khusus yang diberi nama “pastor in style“.
Segera terjadi hiruk pikuk tanggapan dan kebanyakan adalah tanggapan negatif, yang intinya adalah mempertanyakan apakah pantas seorang pendeta atau istri pendeta memakai, baju, tas, sepatu atau jam tangan mahal bak para selebritis, yang harganya bisa puluhan sampai ratusan juta?
Bagi saya jawaban yang tepat adalah “ngono yo ngono ning ojo ngono“, senada dengan ayat Firman: “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” (Roma 14: 19-20)
Berdasarkan ayat Firman ini, segala sesuatu suci namun jika gaya hidup kita (makanan atau pakaian) tidak mendatangkan damai sejahtera, dan menjadikan orang yang lemah imannya jadi tersandung, maka sebaiknya gaya hidup orang Kristen “tidak gemerlapan”. Lalu kalau ditanya batasannya apa? Jawabnya “ngono yo ngono ning ojo ngono“. Anda mengerti? [DD]
Question:
1. Bagaimana pendapat anda dengan gaya berpakaian ‘pastor in style’?
2. Apa batasan tidak menjadi ‘batu sandungan’?
Values:
Walau tidak sejaman, sebagai warga Kerajaan kita harus mengikuti teladan sang Raja dan para rasul-Nya.
Kingdom Quote:
Kehidupan yang bernilai tidak ditentukan oleh nilai dari busana yang kita pakai.
See also  Berbahasa Roh sebagai Identitas Insan Pentakosta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*