Deja Vu

“Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.”_ Lukas 5:5-6
De Ja Vu kata yang berasal dari bahasa perancis, secara harfiah artinya “pernah dilihat”. De Ja Vu adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Murid-murid Yesus kebanyakan berprofesi nelayan dari danau Galilea, kegagalan semalaman menangkap ikan adalah titik awal mereka tertarik mengikuti Rabi Yesus. Setelah Yesus menolong mereka secara “mujizat“ menjala ikan dalam jumlah banyak, di siang bolong. Tanpa ragu mereka kemudian meninggalkan profesinya dan menjadi murid-murid Yesus. (Lukas 5:9-10)
Tujuan Yesus mencari murid-murid adalah untuk menjadikan mereka “penjala manusia“, sebuah ungkapan metafora yang tidak dimengerti oleh para murid saat itu. Mereka rela dan bersemangat mengikuti Sang Guru karena mereka telah melihat Sang Guru dapat menjamin kehidupan sandang pangan mereka, mereka rela menggantikan profesi mereka sebagai nelayan yang sering gagal mendapatkan tangkapan ikan dan bersedia menjadi murid Sang Guru.
Singkat cerita para murid diajarkan “menjala manusia“. Ketika para murid mulai menyadari Sang Guru adalah Mesias yang dijanjikan, pada saat itu pula Sang Guru mulai berterus terang bahwa Ia harus “menjadi domba paskah yang dikorbankan“ yaitu dengan cara mati disalibkan. Para murid tak dapat percaya, mereka mengalami “fase penyangkalan” yaitu tidak cocoknya harapan dan kenyataan. Sejak itu semua pesan Sang Guru tak lagi dapat lagi diserap.
Pasca Gurunya di Salibkan, — walaupun Gurunya bangkit dan menampakkan diri dalam tubuh kebangkitan, mereka tetap kehilangan harapan. Mereka spontan kembali ke profesi lama menjadi nelayan di danau Galilea, menyimpang dari pada tujuan semula menjadi “penjala manusia“. Kemudian peristiwa “de ja vu“ terjadi, Yesus kembali secara mujizat, menolong mereka mendapat banyak ikan saat menjala. (Yohanes 21: 4-6)
Akhir dari cerita ini, setelah Yesus mengajak makan ikan hasil tangkapan mereka, Yesus mengarahkan mereka pada tujuan panggilan semula “menjadi penjala manusia“, tetapi dengan istilah baru “Gembalakan domba-domba-Ku“. Mungkin istilah ini dipakai supaya tak terjadi “De Ja Vu“ ketiga kalinya, dan supaya mereka benar-benar meninggalkan profesi lama mereka sebagai nelayan.
Kesimpulannya, mujizat menjala ikan, walau berulang atau “De Ja VU“, tetapi ini hanyalah perantara untuk tujuan utama, yaitu penyelamatan umat manusia dari kuasa dosa, karena manusia telah kehilangan akan kasih Allah, bagai domba tak tergembalakan. Anda setuju? [DD]
Questions:
1. Apakah Anda pernah mengalami “De Ja Vu”?
2. Menurut Anda, apa tujuan Yesus melakukan mujizat yang sama dua kali?
Values:
Mesias yang disalib bukanlah konsep Mesias yang diharapkan oleh para murid, sehingga Sang raja perlu mendemontrasikan mujizat yang sama (De Ja Vu) setelah peristiwa penyaliban.
Kingdom Quote:
Mujizat adalah perantara, tujuan utama adalah penyelamatan umat manusia.
See also  Bertanggung Jawab

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*