Hamba Siapa?

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci seorang dan mengasihi yang lain, atau, ia akan setia pada seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24
Di dunia literasi, kini dikenal satu istilah: pornoliterasi. Pornoliterasi ini adalah cerita yang mengandung segala macam unsur-unsur pornografi dan hal-hal buruk lainnya. Misalnya saja, dalam satu cerita, ada dikisahkan seorang istri melelang suami kepada ibu-ibu lain untuk membalas dendam. Ada juga kisah dua anak remaja yang berhubungan seks di luar nikah. Kisah-kisah seperti ini bisa diakses bebas, dibaca siapa saja di internet. Penulisnya juga bermacam-macam. Ada orang tua, ada anak SMP-SMA bahkan SD.
Mengapa mereka menuliskan cerita begini? Sederhana saja, mereka menginginkan CUAN (untung). Cerita-cerita seperti itu sangat laris dan bisa menghasilkan banyak uang bagi mereka. Apapun akibatnya, mereka tidak peduli. Yang penting, cuan. Apalagi, pola masyarakat kita yang sebagian besar cenderung menyukai berita-berita atau cerita-cerita yang berbau porno (fulgar). Lihat saja berita tahun lalu tentang ‘video artis 19 detik’, marak kemudian di mana-mana orang membicarakan hal itu. Bahkan tak sedikit yang menjadikan lelucon dalam bentuk meme atau kalimat lucu lainnya.
Di bidang lain juga begitu. Misalnya saja, orang mencampurkan boraks pada makanan, memberi cat merah merona pada lombok supaya laku keras dan dengan harga yang di atas pasar, memberi zat pemutih pada beras yang sudah lama, menyuntikkan bahan pengawet berlebihan kepada daging olahan, dan sebagainya. Tujuannya untung besar dan mudah didapat. Padahal, hal tersebut bisa membahayakan orang lain. Selain membahayakan, tentu hal ini juga adalah hal yang jahat di mata Tuhan.
Hidup ini akan berlalu. Semua kekayaan juga tidak dibawa mati. Kita perlu sadar kalau kita hidup tidak untuk mengejar kekayaan dan menjadi hamba uang. Kita hidup untuk melayani Tuhan. Kita hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagi kita warga Kerajaan-Nya, Tuhan sudah menjanjikan kalau Dia akan memelihara kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Karena itu, kita hanya perlu berpegang pada firman dan janji-Nya, berbuat yang terbaik bagi diri kita dan sesama manusia. Terlebih lagi kehidupan kita harus menjadi dampak yang baik bagi sekitar kita. Karena untuk itulah Tuhan memanggil kita. Jadi, Anda mau menjadi hamba siapa? Tuhan atau Mamon? [PF]
Selengkapnya kunjungi AquilaCenter
Questions:
1. Mengapa kita tidak boleh menjadi hamba uang?
2. Bagaimana kita memperlakukan uang?
Values:
Menghalalkan segala cara untuk mengejar keuntungan adalah hal yang jahat di mata Tuhan.
Lakukan sesuatu seperti melakukan hal itu untuk Tuhan. Do the best, let God take the rest.
See also  Corona, Ujian atau Azab

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*