Kapasitas dan Tuntutan

“Yang seorang lagi diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan seorang lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”_ Matius 25:15
Dalam kisah tentang talenta, dikisahkan seorang tuan akan bepergian ke luar negeri lantas menitipkan talenta kepada anak buahnya. Dikisahkan juga, hamba pertama dan hamba kedua menghasilkan laba sesuai talenta yang dipercayakan sebelumnya. Sang tuan pun memuji mereka, bahkan mengajak mereka bersama-sama merayakan keuntungan yang diperoleh. _”Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”_ (Matius 25:21) Hamba dengan lima talenta menghasilkan lima talenta, pun yang dua talenta menghasilkan dua talenta. Sang tuan pun bahagia dengan kinerja mereka.
Bagaimana dengan kehidupan di sekitar kita? Tak jarang, orang menuntut keuntungan yang besar dan ingin mengeluarkan modal sekecil-kecilnya. Kepada orang lain pun, mereka memiliki tuntutan sangat tinggi dan enggan memberi hasil sesuai.
Misalnya saja, ada bos yang menuntut karyawan bagian akuntansi turut mengerjakan pekerjaan sampingan menyopir mobil, membersihkan kantor, menjajakan barang, tapi tetap memberi upah untuk satu profesi pekerjaannya saja, yaitu sebagai akuntan. Ibu-ibu pun sering dituntut menjadi ibu yang super: harus bisa mengurus rumah dan anak sendirian, mengurus keuangan bahkan sering kali ditambah mencari penghasilan, mengurus suami, dan lain-lainnya. Sementara, sang suami sendiri keluyuran dengan alasan sudah capek bekerja.
Manusia bukan robot. Bahkan robot pun punya kapasitas. Jika dipaksa bekerja melebihi kapasitas, robot akan rusak dan hancur. Begitu juga dengan manusia. Menuntut terlalu tinggi dengan memberi upah yang sangat sedikit adalah perbuatan yang sangat keji.
Dalam Ulangan 24:14-15 dikatakan: _”Janganlah kamu memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik dia saudaramu maupun orang asing yang ada di negerimu, di dalam tempatmu. Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada Tuhan dan hal itu menjadi dosa bagimu.”_ Berlakulah adil terhadap sekelilingmu. Jika anda sebagai atasan dalam sebuah perusahaan, bersikaplah adil dengan bawahan Anda. Jangan menuntut diluar kapasitasnya.
Pada akhirnya, maksimalah dengan talenta yang sudah dipercayakan kepada Anda, dan jangan iri dengan pencapaian yang dilakukan orang lain, yang mungkin saja mereka memang dipercayakan talenta lebih dari Anda. Jika saat ini Tuhan sedang percayakan Anda sebagai pimpinan, bersikaplah adil. Anda mengerti? [PF]
Question:
1. Mengapa kita tidak boleh sewenang-wenang pada orang lain?
2. Bagaimana perlakuan Anda pada pasangan atau karyawan? Sudahkah Anda berlaku adil?
Values:
Berlakulah adil kepada keluarga dan karyawan. Jangan menuntut tinggi dan memberi upah terlalu rendah.
Kingdom Quote:
Berlakulah adil sebagaimana Anda ingin diperlakukan dengan adil.
See also  Apakah Kebangkitan Yesus Hoax?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*