Mengeluh atau Bersyukur

“Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.”Bilangan 11:1
Suatu ketika ada dua orang anak laki-laki yang sedang memakan buah anggur. Salah seorang dari mereka berkata, “Anggurnya manis, ya?” “Memang,” sahut anak satunya, “tapi bijinya banyak sekali.” Sembari berjalan menyusuri kebun, anak yang pertama berseru, “Lihat, mawar-mawar merah yang besar dan indah itu!” Anak yang satunya berkomentar, “Ah… Mawar-mawar itu penuh duri!” Saat itu hari terasa panas sehingga mereka mampir ke sebuah kedai untuk membeli minuman soda. Setelah meneguk minumannya beberapa kali, anak yang kedua mengeluh, “Botolku sudah kosong setengah.” Dengan cepat anak yang pertama menyahut, “Botolku masih berisi setengah!”
Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan banyak orang seperti anak yang berpikiran dalam cerita tersebut. Mereka yang berpandangan seperti anak yang kedua senantiasa memandang kehidupan ini melalui kaca yang gelap. Semuanya seperti negatif, tidak ada yang baik dan tidak ada yang menyenangkan.
Seperti halnya orang-orang Israel dalam Bilangan 11:1. Mereka mengeluh dan bersungut-sungut ketika seharusnya mereka memuji Tuhan atas pemeliharaan-Nya yang murah hati. Dengan mudahnya mereka melupakan bagaimana Tuhan telah membebaskan mereka secara ajaib dan penuh mujizat dari tangan penindas mereka, yaitu bangsa Mesir.
Tidaklah demikian dengan pandangan dari orang-orang yang seperti anak pertama. Mereka penuh ucapan syukur dalam menghadapi keadaan apapun. Sekalipun bersikap realistis terhadap sisi suram kehidupan, tetapi mereka tidak cemberut ataupun rewel. Ketika kita memperhatikan sisi-sisi positif dari peristiwa yang terjadi, maka kita dapat lebih mudah untuk mengucap syukur, sehingga hati kita dipenuhi rasa sukacita dan muka kita tampak ceria dan gembira, dan dengan sendirinya imun tubuh pasti akan lebih baik.
Sebaliknya ketika kita tidak mengucap syukur, kita cenderung akan mengeluh, sehingga kemudian bersungut-sungut. Bayangkan bagaimana rasanya ketika Anda harus berjalan dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang terus mengeluh dan bersungut-sungut. Pasti rasanya menjengkelkan dan membuat perasaan diri kita menjadi tidak enak. Demikian pula Tuhan ketika bangsa Israel mengeluh dan bersungut-sungut, sehingga tak heran Tuhan kemudian menghukum mereka.
Kita dapat mengatasi pikiran yang negatif. Siapa pun kita dan apa pun keadaan yang kita alami. Coba renungkan baik-baik, sebab ada banyak hal yang dapat selalu kita syukuri. Renungkanlah kasih Tuhan bagi diri kita sendiri, bagi orang-orang yang kita kasihi dan bagi semua orang di sekeliling kita.
Pujilah Dia atas pemeliharaan-Nya. Daripada mengeluh tentang “duri”, lebih baik kita bersyukur atas “mawar” yang indah. Kehidupan ini memang tidak mudah dan semua orang tahu itu, tetapi janganlah mengeluh seakan-akan hanya kita saja yang menderita. Sebaliknya mari kita bersyukur karena pasti ada hal yang indah dan baik yang Tuhan sediakan buat setiap kita dalam setiap keadaan. Amin [YMH]
Questions:
1. Mengapa kita harus bersyukur dan tidak mengeluh?
2. Kejadian apa dalam hidup Anda yang paling berkesan sehingga Anda memilih untuk bersyukur dan tidak mengeluh?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati adalah pribadi yang dapat bersyukur sekalipun menghadapi keadaan yang tidak enak.
Our life may not be going the way we planned it, but it is going exactly the way God planned it!
See also  Faktor X

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*