Menjadi Pria Sejati

“Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”_ 1 Korintus 16:13-14
Seorang Pria dipanggil untuk menjalankan banyak peran, bertumbuh dari seorang anak laki-laki, menjadi kakak, suami, ayah, paman dan kakek. Seorang pria juga seorang kekasih, pemimpin, pelindung dan pencari nafkah. Setiap peran tersebut menuntut sebuah kualitas kedewasaan yang Rasul Paulus tuliskan bersikap sebagai laki-laki.
Kedewasaan seorang pria tidak diukur dari penampilan, kekuatan secara fisik atau keberanian menghadapi tantangan tetapi lebih kepada karakter dan tanggung jawab dalam perannya sebagai seorang pria. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa seorang pria jenius dikagumi, pria kaya menimbulkan iri hati, pria berkuasa ditakuti, tetapi hanya pria yang berkarakter dan bertanggung jawab yang dapat dipercaya.
Banyak pria yang berhasil di dalam berbagai bidang, sebagai presiden direktur, dokter, pengacara, teknisi komputer, atau pemain yang handal di lapangan golf, atau yang lain sebagainya. Boleh saja mereka berhasil dalam pelayanan, menjadi pengkhotbah atau hamba Tuhan, akan tetapi banyak yang gagal di dalam rumah tangga sendiri.
Kegagalan seorang pria dalam rumah tangganya sendiri adalah kegagalan bertanggung jawab dalam perannya sebagai suami dan ayah. Sekalipun berhasil di dalam berbagai bidang tetapi jika gagal sebagai suami atau ayah di depan mata Tuhan tetaplah gagal dan tidak ada keberhasilan lain yang sanggup menutupi kegagalan tersebut.
Masalah utama dalam masyarakat dewasa ini adalah pria-pria yang lalai dan para pria yang telah gagal melaksanakan dua tanggung jawab utama sebagai suami dan sebagai ayah. Keduanya adalah sebuah landasan yang penting dan utama di mana sebuah rumah tangga yang benar-benar harmonis dan bahagia bisa dibangun.
Banyak buku tentang keluarga yang bisa dipelajari namun jika belum mengerti dan memahami dua peran sebagai suami dan sebagai ayah maka mustahil dapat membangun sebuah keluarga yang benar-benar berhasil. Seorang pria sejati adalah seorang pria yang mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai suami dan ayah di dalam keluarganya. Untuk itu mintalah kepada Tuhan otoritas sebagai seorang suami dan ayah serta ambil posisi dan tanggung jawab tersebut sebagai kepala rumah tangga.
Otoritas sebagai suami dan ayah bergantung pada penundukan diri kita kepada Yesus, dan hanya otoritas sejati pemberian Tuhan yang bisa membuat kita menjadi kepala keluarga yang efektif. Minta hikmat Tuhan untuk kita melangkah dan memperbaiki setiap kekurangan dan kelemahan kita pada tugas-tugas sebagai kepala rumah tangga, yaitu tugas sebagai imam, nabi dan raja.
Berikan seluruh waktu yang dibutuhkan untuk tugas kita sebagai suami dan ayah di dalam rumah tangga. Salah satu ukuran yang paling pasti untuk prioritas yang benar adalah cara kita membagi waktu kita. Hubungan kita dengan Tuhan adalah priortas yang paling utama, namun sebagai seorang ayah, kita perlu menanyai diri sendiri apakah kita telah menempatkan keluarga kita sebagai prioritas utama setelah hubungan kita dengan Tuhan? Apakah kita dapat menciptakan atmosfir yang membuat anak-anak merasa diterima dan aman? [RSN]
Questions:
1. Bagaimana menjadi seorang pria sejati?
2. Apakah tanggung jawab kita sebagai seorang pria?
Values:
Apapun peran kita di dalam keluarga, dituntut kedewasaan dan tanggung jawab sehingga kita dapat dipercaya.
Kingdom Quote:
Seorang pria sejati mampu melaksanakan tanggung jawab sebagai suami dan ayah di dalam keluarganya.
See also  Apakah Kebangkitan Yesus Hoax?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*