The Hidden Peace

“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”  Lukas 19:41-42
Firman Tuhan sedang menggambarkan sebuah situasi ketika Yesus akan masuk Yerusalem yang berujung pada peristiwa penyalibanNya. Yesus digambarkan begitu emosional hingga menangis. Mengapa? Apakah Yesus sedang “Baper” karena mengetahui bahwa dirinya akan disalib? Yesus bukan menangisi dirinya (Self Pity) melainkan menangisi umatNya di Yerusalem, Mengapa? Karena mereka tidak mengetahui hal yang sangat penting yaitu Damai Sejahtera Tuhan dimana Yesus sesuai nubuatan Nabi Yesaya disebutkan sebagai Raja Damai (Prince of Peace)  Yes 9:5, padahal kata Yerusalem bermakna Teaching of Peace (Mengajarkan Damai Sejahtera).
Mengapa Damai Sejahtera itu penting? Damai Sejahtera adalah kebutuhan batin, emosional paling mendasar dari manusia. Dalam kehidupan kita boleh miliki apapun, kekayaan, kesuksesan, kepopuleran tetapi tanpa damai sejahtera, maka semuanya akan dianggap kesia-siaan atau ketidakbahagiaan. Itu sebabnya Yesus ingin kita memiliki damai sejahtera tersebut. _“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”._ (Yoh 14:27)
Dunia mencoba untuk menawarkan atau memberikan damai sejahtera, melalui berbagai hiburan, kelimpahan materi, keindahan, bahkan melalui ritual-ritual, tetapi damai sejahtera sejati itu bukanlah produk manusia/dunia ini, karena damai sejahtera itu berasal dari Allah (Rm 15:33), melekat dalam pribadi Kristus sebagai Raja, dan dimanifestasikan melalui karya Roh Kudus dalam lingkup KerajaanNya.
Firman Tuhan dalam Rm 14:17 menyebutkan bahwa “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus,” hal ini artinya damai sejahtera justru mengalir dari sikap ketundukan kita kepada kehendak KerajaanNya, dengan menjadikan Tuhan sebagai Raja atau penguasa hidup kita.
Secara sederhana hal itu bisa berarti bahwa salah satu penyebab kita kehilangan kesadaran akan damai sejahtera-Nya adalah saat kita mulai berusaha menjadi Tuhan dan Raja atas hidup dan situasi kita sendiri. Jadi hari-hari ini bagaimana kita menempatkan posisi Tuhan terutama dalam situasi yang sulit ini.
Apakah kita mudah menjadi marah, atau kecewa kepada Tuhan dan kemudian berusaha untuk mengendalikan hidup dan perasaan kita sendiri? Atau kita justru datang, berdoa dan berseru kepadaNya agar mata kita terbuka, dan melihat Raja Damai yaitu Yesus Kristus itu di dalam seluruh situasi kita. Mana yang Anda pilih? [HA]
Questions:
1. Bagaimana Anda memperoleh damai sejahtera sejati?
2. Apakah damai sejahtera itu bisa hilang? Mengapa?
Values:
Damai sejahtera justru mengalir dari sikap ketundukan kita kepada kehendak Kerajaan-Nya, dengan menjadikan Tuhan sebagai Raja atau penguasa hidup kita.
Kingdom Quote:
Milikilah ALLAH di dalam Yesus, maka damai sejahtera-Nya juga menjadi bagian hidup kita dalam situasi apapun.
See also  Growing Zone (Area Pertumbuhan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*