Why Not Me?

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”  Matius 16:24
Sering sekali kita mendengar kisah orang yang mengalami sebuah penderitaan, kemudian di ambang puncak penderitaan yang ia alami, ia kemudian bertanya pada Tuhan, “Mengapa harus saya yang mengalami penderitaan ini?”, “Ini tidak adil!, mengapa saya (dan bukan dia)?”
Bahkan ketika tantangan dalam kehidupan semakin berat, sebagian orang cenderung membandingkan tantangan yang ia alami dengan tantangan yang orang lain hadapi, sehingga ia mengambil kesimpulan dan bertanya, mengapa tantangan yang kuhadapi lebih berat dibanding dengan yang orang lain hadapi? Apakah Tuhan tidak adil?
Dalam sebuah pemberitaan setelah sebuah kecelakaan besar terjadi, sebuah kesaksian dari seorang yang selamat menekankan bahwa Tuhan begitu mencintai dirinya sehingga ia bisa selamat, pertanyaannya apakah Tuhan juga tidak mencintai orang-orang lain yang menderita dalam kecelakaan itu?
Gagasan bahwa Tuhan memberkahi hanya orang-orang yang baik dan menghukum orang-orang yang jahat langsung mengarah pada pertanyaan, “Kalau begitu apa yang dilakukan Yesus sehingga Ia mati muda secara begitu menyakitkan?” Tuhan jauh lebih besar daripada pemahaman kita mengenai baik dan buruk, dan mempunyai rencana abadi yang tidak bisa kita pahami secara total.
Mengalami musibah dan penderitaan tidak selalu identik dengan Allah tidak mengasihimu. Bahkan hebatnya, Yesus justru memilih menderita demi menggenapi rencana Allah. Dibanding mempertanyakan “why me? “ saat mengalami tantangan berat, musibah, atau hal yang tidak menyenangkan lainnya, mari kita belajar dari Daud, justru ia bertanya “why not me?”.
Ketika ada tantangan berat bagi bangsa Israel yang saat itu ketakutan menghadapi Goliat yang menghina barisan dari Allah yang hidup (1 Samuel 17), justru Daud maju. “Tidak seorang pun yang bersedia pergi ke luar sana. Mengapa bukan aku?” kata Daud. Ada inisiatif dari Daud, ada inisiatif Yesus untuk menyelamatkan manusia, meskipun sangat menderita – bahkan mati sengsara.
Ada inisiatif dari warga Kerajaan untuk justru berkata “Ini aku, Utuslah aku Tuhan!” meskipun menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada keberanian untuk menghadapi tantangan, ada keberanian untuk menghadapi penderitaan, ada keberanian untuk menghadapi ketidaknyamanan. Sebab kita hidup untuk memuliakan Kristus, sehingga penderitaan apapun di dalam Dia akan bernilai kekal, Tuhan memperhitungkannya. Justru jika belum pernah menderita karena pikul salib, apakah sungguh kita sedang mengikuti Kristus? [JB]
Questions:
1. Dari pengalaman hidup Anda, ketika menghadapi sebuah peristiwa, apakah Anda bertanya, “Mengapa aku Tuhan?” Jelaskan.
2. Apa respon Anda ketika menghadapi tantangan dalam pelayanan dan pekerjaan?
Values:
Mari kita belajar untuk bertanya “why not me?” dan melihat hal indah yang Tuhan sudah sediakan di balik tantangan tersebut.
Kingdom quote:
Sebab kita hidup untuk memuliakan Kristus, sehingga penderitaan apapun di dalam Dia akan bernilai kekal.
See also  Hidup Jangan Santai

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*