Decision Versus Condition

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”_ Flipil 4:4-6
Setahun masa pandemic telah kita lalui, dan hal ini masih belum berakhir. Masa ini membuat kita dituntut untuk memberi respon-respon yang tepat terhadap situasi yang kita hadapi. Kualitas respon-respon kita akan menentukan keberadaan hidup kita. Respon adalah sebuah tanggapan kita, bisa berupa perasaan, sikap, perkataan, tindakan kita dalam menghadapi sebuah situasi.
Dalam kaitan dengan respon, maka kita melihat ada dua kondisi. Yang pertama, situasi menentukan respon dan pada akhirnya mempengaruhi kita. Contohnya kita marah saat mengendarai kendaraan, karena ada situasi orang lain yang memotong kita. Atau ada situasi orang yang berespon dengan merasa putus asa, karena alami sakit tertentu. Atau kita berespon gembira, antusias karena baru saja mengalami situasi mendapat hadiah atau apresiasi. Artinya respon kita ditentukan oleh keadaan situasi yang kita alami. Jika situasinya baik maka kita berespon baik, tetapi jika situasinya cenderung negatif, kita juga akan berespon negatif.
Tetapi kondisi yang kedua adalah respon mempengaruhi situasi. Artinya kita telah memiliki kualitas-kualitas respon untuk menghadapi berbagai situasi. Misalnya meskipun kondisi masih dalam situasi masa pandemik ini ada orang yang memilih respon untuk tetap bersemangat, berjuang sehingga beraasil mengubah situasi sulit menjadi sebuah kesempatan.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengajarkan kepada kita untuk sebuah pilihan respon “bersukacita” dalam segala keadaan. Bersukacita di sini mewakili sebuah gambaran respon positif apapun situasinya. Pilihan sikap ini haruslah dimulai dari sebuah keputusan (_decision_) mental sebelum terjadinya sebuah situasi (condition). Banyak orang sulit membuat respon yang benar, karena baru berpikir untuk menyusun respon saat sebuah peristiwa, situasi (_condition_) terjadi terlebih dahulu, akibatnya situasi negatifnya telah terlebih dahulu membelenggu mental kita. Sebagai contoh kita baru berpikir untuk bagaimana memilih respon kita saat sudah dalam keadaan sakit, kerugian, penderitaan, atau menghadapi perilaku anak yang mungkin menjengkelkan. Tentunya sulit untuk membuat keputusan benar dalam kondisi tersebut jika tidak dibiasakan terlebih dahulu.
Saat Yesus dicobai tiga kali, kita melihat bahwa Yesus meski dalam situasi negatif – yaitu kondisi lapar, di padang gurun yang panas dan kering, dan berhadapan dengan Iblis, IA dengan tenang menjawab: “Ada tertulis”. Hal itu bermakna Yesus telah membuat sebuah keputusan mental kebenaran sebelumnya berdasarkan prinsip Firman Tuhan, dan menggunakan keputusan mental tersebut untuk menghadapi situasi yang ada. Anda mengerti? [HA]
Questions:
1. Sudahkah Anda melatih diri untuk selalu berespon benar dalam setiap kondisi?
2. Pernahkah Anda berespon salah (negatif), apa yang Anda alami saat itu?
Values:
Belajarlah untuk berespon sesuai kebenaran Firman Tuhan, supaya kehidupan yang kita jalani mencerminkan nilai Kerajaan-Nya.
Kingdom Quote:
_Your decision will determine your condition (Keputusanmu menentukan situasimu)._
See also  Allah yang Memberkati Umat-Nya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*