Fatherless

“Maka bangsa itu akan desak-mendesak, seorang kepada seorang, yang satu kepada yang lain; orang muda akan membentak-bentak terhadap orang tua, orang hina terhadap orang mulia” (Yesaya 3:5)
Kita menyebut negara kita dengan Ibu pertiwi, menyebut pusat pemerintah dengan Ibu Kota. Ketika ada peristiwa menyedihkan seperti bencana alam yang besar kita mengungkapkan dengan gambaran (metafora) “Ibu pertiwi sedang berduka”.
Sejajar dengan lagu yang populer untuk mengungkapkan kesedihan bangsa yaitu lagu “Kulihat Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati.” (lagu yang iramanya mirip dengan lagu yang berjudul “what a friend we have in Jesus”).
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa figur ibu lebih dipakai menggambarkan hubungan negara dan rakyatnya? Apakah hal ini mengungkapkan suasana psikologis kebatinan bangsa kita yang yatim atau tak berayah. Perlu diketahui akibat dari keluarga yang “fatherless” adalah anak- anaknya tidak akur, mudah mengasihi diri sendiri, kasar namun tidak tegar.
Kita sebenarnya pernah mengalami masa-masa persatuan sebagai bangsa yaitu pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan. Namun sejarah mencatat kemudian pertikaian terus terjadi. Sikap penghormatan terhadap pemimpin kadang berlebihan lalu kemudian juga kebencian yang berlebihan.
Suasana gotong- royong dan saling mendukung tak lagi tampak saat ini. Yang ada adalah saling menjegal dan saling bersiasat untuk menjatuhkan. Manis di depan tapi membara di hati. Sebagai bangsa kita tidak mungkin bisa melihat tantangan global yang mengancam. Karena hanya persatuan yang harmonis yang dapat memenangkan persaingan.
Saya jadi teringat akan cerita di Alkitab tentang Ismael, putra Abraham yang menjadi “_fatherless_” karena ditinggalkan sendirian oleh ibunya, Hagar. Akibatnya, keturunan Ismael tidak pernah menjadi bangsa yang akur bahkan sampai sekarang.
“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kejadian 16: 12).
Kalau indikasi bahwa suasana kebatinan bangsa kita adalah benar bahwa kita adalah bangsa yang yatim, yang cirinya suka bertikai, apakah yang harus kita perbuat? Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih memerlukan diskusi. Namun sebelum menyembuhkan penyakit batin “fatherless” kita perlu mengakui kalau Itu memang keadaan kita. Karena pengakuan yang tulus (bukan penyangkalan) adalah awaI dari mencari solusi yang benar. [DD]
Question:
1. Bagaimana ciri- ciri seorang anak yang “fatherless”?
2. Benarkah suasana batin bangsa Indonesia adalah bangsa yang fatherless? Mengapa?
Values:
Sebagai warga kerajaan, kita memanggil Allah dengan Bapa, hingga kekosongan batin seseorang tak berayah dapat digantikan oleh pengenalan akan kasih Allah.
Kingdom Quote:
Perilaku seorang yang menyimpang dan kasar sering terjadi karena keluarga yang broken atau keluarga yang tak berayah.
See also  Dasar Bagi Orang Percaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*