Hubungan Hati, atau Transaksional?

“Mefiboset menjawab kepada raja, “Biarlah dia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat ke dalam istana” (AYT – 2 Samuel 19:30).
Mefiboset adalah anak Yonatan yang diangkat oleh Daud menjadi anaknya karena mereka mengikatkan diri pada janji sehingga Daud berkewajiban untuk melaksanakan janjinya itu. Daud tidak melihat kondisi apapun pada diri Mefiboset karena kita tahu bahwa dia adalah cacat dan timpang kakinya.
Namun perlakuan pembantu keluarga Saul yaitu Ziba yang curang serta culas dan bermaksud menguasai ladang milik Mefiboset, sungguh menyedihkan.
la memfitnah Mefiboset di hadapan Daud. Fitnahnya sungguh kejam yaitu menuduh Mefiboset melakukan pemberontakan kepada Daud ketika Daud dalam posisi melarikan diri dari pemberontakan anaknya, Absalom. Saat Daud kembali dari pelariannya dan dalam kemenangannya kembali ke Yerusalem Mefiboset menyongsongnya dan saat itulah Daud berkata bahwa ia terlanjur membagi ladang keluarga Saul dengan Ziba.
Tahukah kita apa jawaban Mefiboset? Apakah dia marah? Apakah dia kecewa? Apakah dia mengutuki raja Daud? Atau ia benci kepada pembantunya tersebut? Tidak! la tidak melihat harta pusakanya sebagai milik yang harus dipertahankan sebab sukacitanya adalah melihat raja Daud pulang dengan selamat. Itulah hati yang mengasihi dan hati yang tulus.
Hubungan Mefiboset dan Daud tidak lagi dilandaskan kepada hubungan transaksional tetapi hubungan hati. Saat hati Mefiboset mengasihi Daud, maka harta tidak lagi menjadi yang terutama. Hati seperti ini bersukacita melihat Daud pulang dengan selamat. Mefiboset adalah contoh terbaik dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Kalau landasan hubungan kita transaksional maka kita suka “mengancam” Tuhan dengan doa-doa yang penuh dengan kepentingan pribadi. Apabila Tuhan tidak menjawab doa kita maka kita biasanya juga tidak rajin berdoa lagi. Padahal Tuhan menginginkan kita sungguh-sungguh tulus mengasihinya sebagaimana Mefiboset mengasih Daud.
Landaskan hubungan kita dengan Tuhan pada hubungan cinta. Mengapa cinta? Sebab kata ini sangat kuat untuk menggambarkan hubungan yang indah dari sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
Mereka tidak mau terpisahkan. Mereka dengan tulus saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah hubungan yang tidak tendensius untuk mencari kesenangan pribadi. Bisakah itu kita lakukan dalam kaitan hubungan kita dengan Tuhan? [DH]
Question:
1. Periksalah hubungan Anda dengan Tuhan, apakah dilandaskan pada transaksional ataukah hati?
2. Mengapa hubungan hati itu berkaitan dengan cinta?
Values:
Hubungan hati adalah esensi hubungan dalam Kerajaan Allah.
Kingdom Quote:
Saat hati mengasihi, maka harta tidak lagi menjadi yang utama
See also  Hormati Tuhan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*