Lari atau Bertahan

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Roma 14:19

Ada sebuah dongeng (fabel) yang menceritakan mengapa kucing bermusuhan dengan anjing. Dikisahkan bahwa kucing dan anjing dulunya berteman akrab. Namun suatu hari kucing menipu anjing dan membuat anjing marah. Sejak itu, anjing membenci kucing.

Kucing pun menjadi takut kepada anjing. Agar anjing tidak dapat mengendus jejak kucing dengan penciumannya yang tajam maka kucing pun menimbun kotorannya dengan tanah atau pasir. Cerita ini hanyalah dongeng belaka, namun hubungan kucing dan anjing sering menjadi kiasan bagi hubungan yang dipenuhi dengan rasa permusuhan.

Misalnya hubungan Esau dan Yakub, karena Yakub telah memperdaya Esau untuk memperoleh hak kesulungan, sampai akhirnya membuat Esau menjadi marah besar (Kejadian 27).

Alkitab menceritakan bahwa Yakub kemudian berhasil melarikan diri. la pergi rumah kerabat ayahnya, yaitu Laban. Setelah bekerja beberapa lama pada Laban, Tuhan menyuruh Yakub pulang kampung (Kejadian 31:3), namun dalam perjalanannya tersebut Yakub akhirnya terpaksa harus bertemu lagi dengan Esau. Hal ini membuatnya takut karena ia teringat apa yang telah diperbuatnya dahulu dan betapa marahnya Esau kepadanya. la menjadi sangat takut kalau-kalau kakaknya itu akan balas dendam.

See also  Jangan Meninggalkan Kasih Mula-Mula

Begitu takutnya Yakub pada Esau sampai-sampai ia mengatur barisan rombongannya sedemikian rupa (Kejadian 32:7). Yakub pun berdoa memohon kepada Tuhan agar ia dilepaskan dari tangan Esau (Kejadian 32:10).

Meskipun akhirnya Esau menemui Yakub dengan aman dan mereka kembali berbaikan, namun Yakub sempat merasakan ketakutan yang luar biasa.

Umumnya ada dua cara yang biasanya dipilih orang untuk menyikapi suatu masalah, khususnya yang berkaitan dengan hubungan antar sesama kita. Pertama, seperti yg dilakukan oleh Yakub atau si kucing dalam dongeng di atas, yaitu melarikan diri.

Cara ini memang lebih mudah, tetapi dampak ke depannya adalah sangat panjang, karena kita masih terus digelayuti oleh perasaan tidak tenang, dan dihantui perasaan bahwa suatu hari masalah tersebut akan muncul kembali dengan dampak yang lebih parah. Kedua, adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan berusaha menyelesaikannya.

See also  Khawatir dan Cinta

Cara ini pada awalnya mungkin akan tampak lebih merepotkan dan menakutkan. Namun setidaknya masalah itu bisa segera diselesaikan, dan karena telah selesai maka akan mendatangkan damai sejahtera dan membangun masa depan yang lebih aman tanpa ada ketakutan akan masalah di masa lalu.

Jadi apakah respon kita ketika menghadapi masalah, khususnya dalam hubungan dengan orang lain? Apakah kita akan lari, ataukah bertahan untuk menghadapi dan menyelesaikannya?

Apapun responnya, ingatlah bahwa respon kita akan menunjukkan kualitas diri hidup kita, sebab kualitas hidup bukan ditentukan seberapa besar konflik masalah yang ada, tetapi bagaimana cara kita menghadapinya.

Respon kita tersebut juga menentukan bagaimana kita akan menjalani masa depan, apakah penuh dengan damai sejahtera dan berguna dalam hubungan, ataukah dihantaui ketakukan akan masa lalu dan penuh kebencian akan sesama.Amin. [YMH]

See also  Pelatihan Kehidupan

Question:
1. Mengapa Yakub merasa ketakutan saat akan bertemu dengan Esau?
2. Apa langkah yang Anda ambil ketika Anda mengalami masalah dengan orang lain?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati bukanlah trouble maker, melainkan solution maker.
Kingdom Quote:
Kualitas hidup bukan ditentukan seberapa besar konflik masalah yang ado, tetapi bagaimana cara kita menghadapinya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*