Mengenali Langsung

“Dahulu, pengetahuanku tentang Engkau hanya kudengar dari orang saja, tetapi sekarang kukenal Engkau dengan berhadapan muka.”Ayub 42:5 BIMK

Ketika pertama kali bertugas sebagai hakim, saya ditempatkan di sebuah kota kecil bernama Blambangan Umpu, di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Karena beberapa alasan saya dan istri memutuskan untuk tidak memindahkan keluarga kami ke Blambangan Umpu, sehingga saya harus menyediakan waktu untuk pulang menengok keluarga di Denpasar. Saat itu teknologi informasi dan komunikasi tidaklah secanggih jaman sekarang. Jangankan untuk melakukan video call, untuk menelpon melalui jaringan selular biasa pun tidaklah mudah. Saat itu anak pertama kami juga baru lahir, sehingga karena keterbatasan komunikasi maka sulit bagi saya dan anak saya untuk membangun suatu kedekatan. Ketika anak kami makin dewasa, meskipun setiap hari istri saya menunjukkan kepadanya foto saya sebagai ayahnya, namun tiap kali saya pulang ke Denpasar anak kami menunjukkan rasa asing kepada saya, khususnya di hari pertama saya tiba. Akibatnya ia tidak mau langsung saya

peluk

dan ajak bermain. Butuh waktu beberapa saat agar ia akhirnya yakin dan percaya bahwa saya adalah ayah kandungnya. Hal yang hampir mirip dialami oleh Ayub. Ia memang dikenal sebagai orang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1). Namun ketika ia melalui berbagai masalah dan pencobaan, ia berusaha membela dirinya sendiri dengan menunjukkan segala perbuatan baik dan kesalehan dia. Ia mempertanyakan mengapa ia harus mengalami penderitaan padahal ia sudah hidup dalam kesalehan. Namun ketika Allah menunjukkan pribadi-Nya yang sejati kepada Ayub, maka Ayub tidak lagi mempertanyakan hal tersebut. Ketika Allah sendiri berfirman kepada Ayub, barulah Ayub sadar bahwa Allah adalah Tuhan yang berkuasa sanggup untuk melakukan segala sesuatu namun tetap peduli kepada dirinya yang hina. Selama ini Ayub ternyata hanya mengenal Allah dari cerita orang, atau dengan kata lain karena tradisi turun temurun. Namun lewat berbagai masalah yang menjungkirbalikkan hidupnya tersebut, barulah Ayub secara langsung mengenal siapa pribadi Allah yang sesungguhnya. Di saat itulah ia percaya kepada Allah dan mencabut semua ‘gugatannya’ kepada Allah dan menyesali semua tindakannya yang terdahulu dengan sikap yang merendah.

See also  Rajawali di Musim Semi
Dahulu anak saya perlu waktu beberapa saat agar ia mau mempercayai saya sebagai ayah kandungnya. Setelah bertemu secara langsung, maka ia baru benar-benar mempercayai dan menganggap saya sebagai ayah kandungnya. Demikian pula Allah kepada kita. Mungkin Anda terlahir dari keluarga Kristen, atau seperti saya yang lahir dari keluarga hamba Tuhan. Tapi Allah tidak mau pengenalan kita akan Dia hanya sebatas kata orang atau tradisi turun temurun saja. Ia ingin kita mengenal-Nya secara langsung sebagai Tuhan yang sejati, Bapa yang kekal, Juruselamat dan Raja yang berkuasa di langit dan di bumi. Jadi ketika Anda diijinkan untuk mengalami berbagai masalah, janganlah menjadi gusar, sebab masalah adalah salah satu cara agar kita dapat langsung mengenal pribadi-Nya yang berkuasa dan penuh kasih. Amin [YMH]
Questions:
1. Menurut Anda, mengapa Ayub disebutkan sebagai orang yang saleh dan takut akan Tuhan?2. Mengapa Ayub akhirnya mencabut gugatannya dan menyesali perbuatannya?
Values:
Warga Kerajaan Allah yang sejati adalah warga yang mengenali pribadi Rajanya secara langsung, bukan dari kata orang.
*“Job never saw why he suffered, but he saw God, and that was enough.” – Tim Keller.*

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*