Ratu atau Selir?

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”_ Yohanes 4:23
Seorang raja dari Persia, Ahasyweros, jatuh cinta kepada Hadasa, seorang gadis Yahudi biasa yang akhirnya menjadi ratu Persia yaitu Ester. Mengapa seorang penguasa yang sangat terkenal ini jatuh cinta kepada gadis biasa, padahal ia bisa memperoleh putri-putri bangsawan Persia yang dikehendakinya? Alasannya bahwa wanita itu mencintai “sesuatu” yang dimilikinya dan bukan mencintai dirinya. Ester adalah seorang gadis yang mencintai raja, sedangkan gadis yang lainnya mencintai kerajaan, kehormatan, kenikmatan, dan kemewahan yang mengelilingi mereka. Mereka cukup puas hidup sebagai selir, “sekali-kali” memiliki pengalaman hidup bersama raja, makan di meja raja, melakukan tugas bagi raja. Sebaliknya Ester sadar bahwa tanpa raja, seindah apa pun istana, hanyalah sebuah rumah besar yang kosong dan tanpa arti. Ester tahu, banyak selir tinggal di istana bersamanya, tetapi mereka tidak “memiliki raja”. Para selir puas dengan pola hidup “istana”. Tetapi Ester mempersiapkan dirinya untuk memperoleh kehidupan seorang “ratu”
Banyak orang tahu kisah Ester adalah suatu pewahyuan tentang gereja Tuhan masa kini. Jika Allah tidak ada di dalam hati umat-Nya, maka bangunan gereja adalah sebuah gedung besar yang kosong. Di sana mungkin banyak”selir-selir rohani”, orang-orang percaya yang hanya mencari berkat-berkat-Nya. Mereka mencintai pemberian-Nya, kuasa-Nya, kelimpahan-Nya, tetapi mereka tidak mencari wajah Allah. Mereka mengejar berbagai kenikmatan yang berasal dari rumah Allah, bukan mencari hati Allah! la sangat rindu memiliki umat yang seperti Ester, yang jatuh cinta kepada “Raja” dan bukan kepada berkat-berkat Raja.
Hati Allah mencari mereka yang mengasihi “Si Pemberi” lebih dari pemberian! Seperti Ester, seorang penyembah benar seharusnya duduk di meja Tuhan dengan hati sepenuhnya kepada Tuhan, bukan kepada kenikmatan hidangannya. Kita harus berani mengambil keputusan untuk beralih dari pola kenyamanan kehidupan seorang selir untuk kepentingan diri sendiri, menuju pola kehidupan seorang ratu untuk menyenangkan hati “Raja”. Sudah saatnya bagi kita sebagai gereja-Nya mempersiapkan diri sebagaimana layaknya seorang ratu—mempelai Kristus. Hanya mempelai-Nya yang memiliki Raja! Anda mengerti? [AU]
Questions:
1. Menurut Anda apakah bisa kita menyenangkan hati Raja seperti Ester? Bagaimana caranya?
2. Apa beda selir-selir rohani dengan mempelai Kristus?
Values:
Seperti Ester, seorang penyembah benar seharusnya duduk di meja Tuhan dengan hati sepenuhnya kepada Tuhan, bukan kepada kenikmatan hidangannya.
Kingdom Quote:
Cari dan dapatkan hati Tuhan, bukan sekedar pertolongan-Nya!
See also  Pemimpin, Dilahirkan atau Diajarkan?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*