Standar Penilaian Kristus

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2:14
Manusia hidup dan beraktifitas tidak mungkin luput dari yang namanya menilai. Sebelum mengambil keputusan ada penilaian dan pertimbangan sebelumnya, baik atau buruk, benar atau salah, cocok atau tidak dan sebagainya.
Namun pada umumnya orang melakukan penilaian berdasarkan pada apa yang terlihat mata pada saat itu. Padahal yang terlihat seringkali menipu karena tidak menampilkan yang sebenarnya. Banyak orang hidup jadi galau karena tertipu penilaian semu. Apalagi jaman now di mana orang sering pamer penampilan di medsos. Jadi merasa dirinya tidak sebahagia orang itu.
Untuk itu anak-anak Tuhan harus belajar membuat penilaian bukan secara duniawi tetapi sebagai manusia rohani. Tentu saja penilaian rohani tidak dapat dipahami orang-orang yang hidup secara duniawi.
Kita dapat belajar pada contoh kematian Lazarus dalam Yohanes 11. Melihat Tuhan Yesus sengaja menunda 2 hari untuk menengok Lazarus, orang-orang menilaiNya buruk. Mengapa harus menunda hingga Lazarus mati? Sungguh kesengajaan yang dinilai bodoh, padahal Tuhan Yesus dinilai mampu mencegah kematian Lazarus.
Tetapi dari sini kita melihat standar penilaian Tuhan Yesus yang berbeda dengan penilaian manusia duniawi. PenilaianNya bukan berdasarkan pertimbangan baik dan buruk menurut pendapat manusia tetapi atau kehendak BapaNya. Setiap keputusanNya selalu ada tujuan mulia dan dalam kasus ini kemuliaan Allah dinyatakan sehingga Anak dimuliakan (ay. 4) dan agar murid-murid belajar percaya (ay. 15).
Nah, kita sebagai murid-muridNya juga, apakah kita belajar sesuatu dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita? Bagaimana kita menilai setiap hal, apakah baik atau buruk berdasarkan penilaian umum sebagaimana orang menilai pada umumnya?
Kalau kita kehilangan sesuatu yang berharga, samakah penilaian kita dengan penilaian mainstream? Kalau kita mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, seharusnyalah kita tidak terburu-buru memberikan penilaian buruk. Seharusnya di dalam Tuhan tidak ada perkara yang buruk, semuanya mendatangkan kebaikan. Dengan demikian tidak ada yang mendatangkan kesedihan, sebaliknya segala sesuatu mendatangkan sukacita. Anda percaya? [LS]
Question:
1. Kalau hari ini keuangan Anda kacau, Anda menilainya baik atau buruk?
2. Anda sering dinilai sebagai orang baik atau orang buruk? Kenapa demikian?
Values:
Seharusnya di dalam Tuhan tidak ada perkara yang buruk, semuanya mendatangkan kebaikan.
Kingdom Quote:
Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis (Titus 1:15)
See also  Ragi Farisi dan Saduki

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*