Ujian


“Maka la maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya, “Ya, Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:39

Ujian adalah hal yang menyebalkan, bukan? Ketika kita bersekolah atau berkuliah, kalau ada ujian mendadak, kita sering kesal. Apalagi, kalau tidak sempat belajar lalu nilai kita jelek dan kita dimarahi orang tua kita.

Dalam kehidupan pun demikian. Ujian datangnya sering mendadak. Seringkali kita tidak siap hingga pada akhirnya kita merasa marah kepada Tuhan atau orang lain.

Kemarin, saya juga baru kena giliran ujian. Baru saja mendaftar sebagai pedagang di salah satu aplikasi, saya sudah kena tipu. Modus operandinya cukup canggih, mereka mengaku sedang ada pembaruan sistem pencairan dana.

See also  Kembali kepada Kasih yang Semula di Tengah Pandemi

Jadi, kalau saya tidak memberikan data-data, saya tidak bisa ikut sistem yang baru. Gaya bicara yang mendesak dan seolah marah bahwa saya merepotkan petugas membuat saya sempat tertipu dan memberi beberapa data penting.

Akibatnya, mereka bisa meretas rekening bank saya dan mengambil sejumlah uang yang jumlahnya sangat lumayan. Di saat yang sama, layanan telepon bank bisa sibuk dalam waktu cukup lama hingga saya tidak bisa mengadu dan memblokir rekening. Ini betul-betul menyesakkan.

Saat kesulitan keuangan, toko belum dapat ‘penglaris’, sejumlah uang yang jumlahnya lumayan besar hilang begitu saja. Untungnya, saya tidak seperti dulu yang mengutuki kebodohan diri sendiri lalu menyakiti diri dengan menghukum diri sendiri.

See also  Malu adalah Bagian dari Iman

Ada satu perspektif kalau hal ini terjadi atas seizin Tuhan, bukan semata-mata saya yang bodohnya kebangetan. Mungkin saja, ujian ini diberikan Tuhan untuk melihat apakah saya masih suka menyalahkan dan menyakiti diri sendiri. Mungkin saja, ujian ini datang agar saya lebih waspada.

Reframing pikiran seperti ini menghindarkan saya dari meratapi nasib dan menyerah menyelesaikan masalah ini. Dalam ujian ini, Tuhan juga menyatakan firmanNya bahwa Dia tidak akan membiarkan anakNya jatuh tergeletak.

Meski jumlah uang yang diambil sangat lumayan, saldo di rekening saya masih tersisa dan bisa saya tarik melalui ATM. Hingga kini, saya masih sedih, tapi saya mempunyai pengharapan pada Tuhan bahwa Dia akan menolong saya. Bagaimana dengan Anda? [PF]

See also  Kapasitas dan Tuntutan


Question:
1. Bagaimana cara kita menjalani ujian?
2. Apakah Tuhan pernah memberi cobaan melebihi kekuatan kita?
Values:
Ujian memang berat, tapi kita harus melewatinya untuk mencapai kemenangan.
Kingdom Quote:
Ujian kehidupan datangnya selalu mendadak. Bersiaplah selalu!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*