Ukuran Sukses

“Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:34)
Saat ini kita hidup dalam budaya yang mengagungkan kesuksesan. Bahkan bisa dikatakan kesuksesan adalah “agama” yang terbesar. Orang Kristen seperti kita pun tergila-gila dengan kesuksesan, di mana kesuksesan diartikan hidup yang berkelimpahan materi, menjadi orang yang terkenal, dan mempunyai kedudukan (kekuasaan) yang tinggi. Secara tidak langsung kita menciptakan pengajaran bahwa Tuhanlah yang menginginkan kita “sukses.”
Sebenarnya kalau kita cermati, Tuhan tidak berurusan dengan kesuksesan seperti yang kita pahami. Walaupun tentu saja Tuhan juga tidak anti kesuksesan. Tetapi yang pasti Tuhan sedang berurusan dengan kesempurnaan karakter kita. Bahkan Tuhan memakai kegagalan kita untuk menyempurnakan, atau memurnikan hati (karakter) kita dan untuk mengekploitasi potensi yang ada didalam diri kita.
Itu sebabnya bila Anda saat ini mengalami kegagalan jangan berputus asa karena Tuhan sedang” bekerja ” memurnikan dan menyempurnakan Anda. Keputusasaan akibat kegagalan muncul karena kita mengacaukan arti “gagal” dan “orang yang gagal.”
Walaupun kita sering mengalami kegagalan, bukan berarti kita orang gagal. Anda baru dikatakan gagal kalau Anda berhenti berusaha. Ada ungkapan yang mengatakan, “Mungkin bukan kesalahan Anda kalau Anda jatuh, tapi yang pasti kesalahan Anda jika Anda tidak bangun kembali.”
Belajarlah dari kehidupan Tuhan Yesus. Kalau kehidupan Tuhan Yesus diukur dengan arti kesuksesan yang umum kita pahami, maka kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan yang gagal. Kisah kehidupannya tidak akan masuk di dalam daftar orang orang sukses.
Murid-murid-Nya meninggalkan-Nya, lalu la mati di usia sangat muda, bahkan mati sebagai seorang terkutuk – sebagai penjahat besar di kayu salib. Tetapi di dalam pandangan Allah Bapa apa yang la alami adalah kemenangan besar karena memenuhi rencana Bapa-Nya yang sempurna bagi keselamatan umat manusia. Jadi sebenarnya sukses dan kegagalan sebenarnya hanyalah soal perspektif.
Pada saat krisis moneter belasan tahun yang lalu, terjadi keterpurukan atau kegagalan di dalam dunia usaha. Banyak pengusaha sampai saat ini tidak bisa bangkit lagi. Tetapi keterpurukan akibat krisis moneter juga membangkitkan banyak karyawan yang di PHK telah “bermetamorposa” menjadi pengusaha.
Mereka saat ini bisa berkata, betapa malunya ketika saya termasuk karyawan yang di PHK saat itu. Tapi peristiwa yang memalukan itu telah membangkitkan “raksasa yang tertidur” di dalam diri saya, yaitu potensi saya sebagai pengusaha. Sekarang saya mengucap syukur karena adanya krisis moneter dan mengucap syukur karena saya di-PHK. Jadi kita mengerti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi “cikal bakal” sebuah kesuksesan. [DD]
Question:
1. Apa perbedaan kesuksesan menurut ukuran dunia dan menurut Tuhan?
2. Bagaimana ukuran sukses yang sebenarnya?
Values:
Sukses menurut ukuran kerajaan Sorga bukan kaya ataupun terkenal tetapi menggenapi rencana Tuhan yang ada di dalam kita.
Kingdom Quote:
Orang sukses bukan orang yang tak pernah gagal, tetapi orang yang tak pernah menyerah ketika gagal.
See also  Menyikapi Perubahan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*