Mau Kemana Gereja di Tahun berikut? “Gereja Rumah” atau Gereja Virtual Menjadi Pilihan

Jakarta (Indonesia), aquilanews.net – Kemajuan teknologi sangat pesat, khususnya Teknologi informasi. Kita sering mendengar beberapa istilah seperti smart city, artificial intelligence, big data dan internet of things. Perkembangan teknologi membuat profesional dan pengusaha berpikir keras, serta membanting setir usaha, menutup atau merombak total bisnis yang dijalankan.

Makna perkembangan teknologi adalah perubahan seperti Internet of Things (IoT) yang didefinisikan secara umum adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke Komputer.

Dengan semakin berkembangnya infrastruktur internet, maka kita masuk ke dalam percepatan teknologi, dimana tidak hanya smartphone atau komputer yang terhubung dengan internet, tetapi berbagai benda dan makhluk hidup dapat tersambung ke jaringan lokal dan global menggunakan sensor dan atau actuator yang terpasang.

IoT pertama kali diperkenalkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999.

Implementasi Internet of Things ini merambah ke berbagai sendi kehidupan manusia diberbagai sektor, dari kesehatan, rumah tangga, industri, transportasi, keamanan, perdagangan, perkebunan, pertanian dan peternakan dll.

Salah satu di peternakan sapi di New Zealand menerapkan IoT. Sapi dipasang Chips dan tidak lagi ditempatkan dikandang melainkan dilepas di padang rumput, tidak digembalakan serta tidak perlu mempekerjakan banyak orang dilapangan untuk menggembalakan sapi.

See also  Antonius Natan : Terpanggil Menjadi Pelopor Moderasi Beragama

Chips terpasang terhubung dengan kamera monitor sehingga posisi sapi dipadang pengembalaan dapat diketahui secara akurat. Sensor yang ada dalam tubuh sapi dapat mendeteksi sapi sakit atau sehat, makan dan minum cukup atau kurang, sedang musim kawin atau tidak, sapi disensor apakah siap diambil susunya dll.

Apabila sapi terdeteksi tidak sehat maka ada peringatan dalam bentuk suara atau warna pada layar monitor dan koneksi internet secara otomatis menghubungi dokter hewan sehingga bisa langsung menuju ke sapi terkait untuk perawatan.

Mesin semakin cerdas, robot akan ada dimana mana, sampai suatu saat nanti akan terjadi penggabungan robot dan manusia.  Dahulu film “six-million-dollar man” disebut sebagi film fiksi, tetapi saat ini telah menjadi kenyataan. Akankah operasi militer atau intelijen berubah? Apakah kebaikan bertambah atau malah kekacauan akan terjadi dimana-mana?

Gereja Virtual Menjadi Pilihan

Kita memasuki era dimana mesin pencari seperti Google akan semakin canggih dan big data memberikan difinisi baru bagi pengguna yang cerdas, manusia akan terbiasa dengan internet of things dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan munculnya asisten virtual.

Perkembangan teknologi akan mencapai puncaknya dengan menggantikan peranan manusia, dimana mesin akan bergabung dengan jiwa dan raga dari manusia.

See also  Greg Tan, Anak Muda yang Bangun 141 Gereja itu, Dulu Jualan Gorengan di Kampus

Pengalaman manusia menjadi sangat berbeda. Akankah manusia menjadi sangat cerdas sekaligus kuat? akankan manusia memiliki hikmat dan pengetahuan yang hebat karena chips yang dipasang dalam otak manusia mampu mengolah data dan membuat rumusan baru sehingga “mempersamakan diri seperti Tuhan”?

Pada saat itu apakah Injil masih relevan? misteri ilahi yang selama ini disebut iman akan terkuak oleh mesin pencari jawaban yang relevan, actual dan dapat diterima oleh akal manusia.

Perubahan teknologi ini perlu di antisipasi oleh gereja dan para teolog.

Manusia dengan kecanggihan teknologi apakah tetap akan berkumpul dalam komunitas gereja?

Apakah bangunan gereja yang besar yang disebut Mega Church akan dipenuhi manusia?

Saatnya akan datang, manusia dapat mengakses dengan mudah Pengkhotbah yang popular dari berbagai belahan dunia dan menikmatinya secara live?

Jemaat dengan mudah memilih dan memilah topik khotbah yang disukai, yang dibutuhkan, yang mudah dicerna, dapat dipercaya dan sebagainya. Sekaligus jemaat juga bisa memberikan persembahan kasih, kolekte maupun persepuluhan melalui pembayaran online, menggunakan QR Code dan semacamnya. Uang akan berpindah kemanapun walau berbeda mata uang.

Jemaat bermasalah dapat terkoneksi melalui aplikasi dan melakukan konseling atau mendapat Coaching dari pendeta yang dipilih dan dapat terhubung secara live dari berbagai belahan bumi tanpa kendala bahasa, karena mesin dengan mudah menterjemahkan berbagai bahasa di bumi.

See also  Keuskupan Pangkalpinang Raih Penghargaan dari Wali Kota Batam

Gereja menjadi global, era gereja lokal menjadi usang, jemaat bisa datang dari berbagai bangsa, suku dan bahasa.

Tetapi jemaat secara fisik tidak berada di Rumah Tuhan, cukup dari rumah dengan layar virtual mungkin tiga atau empat dimensi. Gereja menjadi hadir dalam rumah pribadi.

Apakah ini menjadi difinisi baru sebagai “gereja rumah”? Gereja Virtual menjadi pilihan.

Ini akan menjadi pertanyaan bagaimana sentuhan spiritualitas dapat menyatu dengan kecanggihan teknologi? Apakah melalui IoT manusia akan berjumpa dengan Allah Sang Pencipta langit dan bumi?                                          Dan apakah Tuhan akan menjumpai iman dimuka bumi pada saat itu?

Dan apakah ini merupakan pertanda kita telah berada diujung akhir jaman?                                                              Menjadi tugas pendeta atau pastor atau gembala sidang atau kita semua untuk memberikan jawaban dan memastikan umat tetap beribadah sehingga terjadi perjumpaan antara Jemaat dengan Tuhan Yesus Kristus.

 

 

Tulisan pernah terbit di Majalah Narwastu Nopember 2018

Antonius Natan
Sekum PGLII DKI Jakarta
Waket I Bidang Akademik STT LETS – Lighthouse Equipping Theological School

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*