Iman Negatif

“Dekat jalan, la melihat pohon ara lalu pergi ke situ. Tetapi, la tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. KataNya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.” Matius 21:19
Sebenarnya bagaimana supaya kita dikatakan beriman? Apakah saat hidup kita penuh mujizat? Apakah saat Tuhan bicara kepada kita? Apakah saat kita terus berdoa dan berpuasa hingga kita mendengar suara Tuhan? Saya pernah mengira begitu. Saya mengira, iman dan mujizat adalah satu kesatuan. Jika tidak ada iman, maka tidak akan ada mujizat. Kalau kita tidak mengalami mujizat, itu karena kita tidak beriman.
Saya juga pernah mengira, kita beriman saat Tuhan bicara terus menerus dan mendikte apa yang harus dilakukan. Kalau Tuhan (kebetulan) diam berarti iman kita sedang tidak ada. Karena iman tidak ada, kita harus men-charge iman kita dengan berdoa dan berpuasa hingga Tuhan bicara. Kalau Tuhan tidak bicara, berarti kita telah membuat dosa besar dan Tuhan sedang murka. Benarkah demikian?
Ada perspektif baru yang saya dapatkan dari seorang teman yang mengena sekali buat saya. Dia memberi sebuah artikel mengenai ‘iman yang negatif’. Iman yang negatif adalah saat kita takut mengerjakan ini atau itu, takut yang kita lakukan itu salah dan jahat, hingga akhirnya kita berakhir dengan tidak melakukan apa-apa. Hidup seperti mayat hidup. Yang dilakukan hanya menunggu dan diam. Saya sendiri saat itu memang tidak berani melakukan apa-apa. Karena itu tadi, menunggu Tuhan mengatakan “ya”. Frustrasi juga saat tidak ada instruksi jelas sementara dari kesaksian-kesaksian yang saya dengar, orang yang diberi instruksi dari Tuhan selalu sukses.
Padahal, ada saatnya juga Tuhan diam dan membiarkan kita mengambil keputusan. Tuhan tidak selalu mendikte kita dalam segala hal. Ada hal-hal yang Tuhan percayakan agar kita putuskan sendiri. Kalau pun kita gagal, itu bukan berarti kita salah hingga tidak ada mujizat.
Bisa jadi, Tuhan memiliki rencana lebih baik atau kegagalan itu adalah sarana untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih berkenan di hadapanNya. Jadi, berimanlah secara positif. Yakinlah dengan apa yang dilakukan. Yakinlah pada penyertaan Tuhan. Dan yakinlah bahwa rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera. Asalkan apa yang kita lakukan halal, tidak bertentangan dengan firman Tuhan (alkitab), maka yakinlah.
Berdoa, berpuasa, dan mencari Tuhan memang benar. Namun, kita harus ingat kalau kita harus berusaha dulu barulah kita bisa berbuah. Kalau jatuh, bangkit lagi dan berusaha lagi. Tuhan sudah katakan, bersama Tuhan, kita sanggup menanggung segala perkara. Amin. [PF]
Question:
1. Apakah ‘iman negatif’ itu?
2. Bagaimana cara kita memiliki iman yang positif?
Values:
Tuhan selalu mendukung kita. Yang harus kita percayai adalah bahwa la takkan membiarkan kita jatuh tergeletak. Karena itu, maju dan melajulah!
Kingdom Quote:
Iman tanpa perbuatan adalah mati.
See also  Jebakan Nabi Tua

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*